jump to navigation

Hari Pertama

Katakanlah, “Selamat Datang Tamu Agung”

Saudaraku,

Tanamkanlah kesadaran dan keyakinan, bahwa semua pujian benar-benar hanya milik Allah Swt. Dan tidak satu pun makhluk yang layak dan pantas menerima pujian. Pujian hanyalah milik Allah Swt, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Bijaksana, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Pencipta. Maka, jika kita masih memendam kekaguman dan memberikan pujian kepada makhluk, sadarlah bahwa rasa kagum dan pujian itu haruslah pada akhirnya diarahkan kepada Allah Swt. Kekaguman dan pujian itu tidak boleh berdiri sendiri pada apapun yang berstatus makhluk. Semua kekaguman dan pujian harus tetap diarahkan yang paling utama dan paling berhak adalah Allah Swt.

Saudaraku,

Ucapkanlah, Alhamdulillah…

Dan ucapkanlah, Selamat datang wahai bulan mulia. Selamat datang wahai bulan ampunan. Selamat datang wahai bulan Al Qur’an, Selamat datang wahai bulan penuh kasih sayang dan pembebasan dari neraka… Alhamdulillah Yang telah memberikan izin dan kesempatan usia kepada kita untuk menghirupnya di bulan ini… Alhamdulillah…

Saudaraku,

Ucapkanlah kalimat syukur ini dengan merenungi kemuliaan bulan ini. Kita benar-benar harus memanjatkan kesyukuran kepada Allah Swt atas kehadirannya. Kedatangannya adalah selimut kasih sayang ke seluruh makhluk. Kedatangannya membuka pintu-pintu surga. Kedatangannya menutup pintu-pintu neraka. Kehadirannya membelenggu syaitan dan menggemakan panggilan: “Wahai pelaku kebaikan perbanyaklah kebaikan… Wahai pelaku keburukan cukuplah melakukan keburukan… “

Ramadhan adalah tamu kita yang mulia, yang datang setelah rentang satu tahun penuh terlewat. Padahal, kita tahu, ada sahabat, teman, saudara, keluarga, tetangga, yang telah menghembuskan usia terakhirnya dalam rentang setahun kepergian Ramadhan. Mereka tidak lagi menerima kehadiran Ramadhan tahun ini. Padahal, dalam rentang satu tahun itu, ada diantara kita yang mendapatkan petunjuk dan ada yang tersesat.

Saudaraku,

Ramadhan, berkata kepada kita, “ Berpuasalah kalian dari melihat yang haram. Menangislah mata kalian dalam kegelapan…” Rasulullah Saw memberikan kabar gembira pada ummatnya dengan datangnya bulan ini.

“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan yang diberkahi. Puasa di bulan ini akan membukakan pintu-pintu langit, dan menutup pintu-pintu neraka, lalu membelenggu syaitan. Demi Allah, didalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang tak mendapat kebaikan di bulan itu, berarti ia tidak mendapatkan kebaikan lagi.” (HR Ahmad dan Nasa-I dengan sanad jayyid)

Saudaraku,

Dihari pertama ini, tak perlu terlalu berbesar hati dengan semangat dan kehangatan yang menyergap hati kita dengan kehadiran Ramadhan dan menjalankan ketaatan kepada-Nya. Karena, “innama al a’maalu bi khawaatimiha”, nilai sebuah amal itu di nilai pada bagian akhirnya. Jika kita melakukan puasa dan berbagai ketaatan di hari pertama dengan penuh semangat, itu baik. Tapi penting diingat bahwa sesungguhnya fase bulan penuh berkah ini baru saja dimulai. Perjalanan baru menapaki langkah pertamanya. Perjuangan hanya baru memasuki awal tahapannya.

Peliharalah semangat ini untuk tetap hangat dan bahkan berkobar. Jangan biarkan semangat ketaatan ini padam. Karena banyak di antara kita yang mengerti, selalu saja ruang kesalahan dan kekeliruan kita berulang di bulan ini adalah, saat tapak-tapak hari Ramadhan kian memasuki pertengahan dan menjelang akhirnya. Lalu semangat meredup, fisik semakin berat, ketaatan mulai berkurang.

Mari saling kuatkan jiwa dan semangat saudaraku. Paksa diri kita untuk melakukan ketaatan. Karena itulah sesungguhnya makna mujahadah, bahwa kebaikan dan ketaatan itu perlu energy kesungguhan, perlu kekuatan untuk melawan hawa nafsu, perlu paksaan kepada diri sendiri untuk tidak tunduk pada keinginan rendah.

Saudaraku,

Kita dibelenggu oleh dua musuh yang selalu mendorong pada keburukan. Musuh itu adalah syaitan dan hawa nafsu. Berperang melawan syaitan dan hawa nafsu berarti kita perang melawan diri kita sendiri. Syaitan mengelabuhi keburukan menjadi kebaikan. Sedangkan apa yang disukai oleh hawa nafsu akan disukai oleh diri sendiri.

Kita harus mempelajari ilmu yang tepat untuk bisa menilai apakah kehendak itu baik atau jahat. Namun sekedar tahu buruk atau baiknya belum cukup juga untuk kita melaksanakan atau meninggalkan sesuatu. Karena banyak orang yang tahu tapi tidak mau. Banyak juga orang yang mau tapi tidak mampu. Syaitan tidak pernah tidur. Begitu juga nafsu, musuh yang tidak mengenal arti letih. Sedikit saja kita terlena, pasti kita akan terkena tipuan dan hasutannya.

Bukankah manusia sebaik Nabi Adam pun telah ditipu oleh iblis hingga keluar dari surga? Karena kedua musuh itu tidak pernah istirahat dari menyerang kita, maka kita seharusnya tidak beristirahat untuk mempertahankan diri.

Saudaraku,

Sekali lagi, katakanlah, selamat datang tamu agung Ramadhan. Ingatlah bahwa bulan ini merupakan fase waktu yang tak pernah bisa dinilai mahalnya oleh seluruh usia dan semua harta benda yang kita punya. Sungguh esok kita akan berada di hadapan Allah, berdiri di hadapan Allah, dan menyesali berbagai perbuatan yang menyepelekan atau berbahagia mendapatkan pahala dari kebaikan yang dilakukan di bulan ini.

Ya Allah, terimalah puasa kami. Tolonglah kami dengan Keutamaan-Mu untuk bisa melakukan qiyam (shalat malam) di bulan ini. Ya Allah jadikanlah amal-amal kami semuanya sebagai amal yang shalih, dan jadikanlah amal-amal itu semuanya ikhlas hanya untuk-Mu. Alhamdulillahi Rabbil Aalamiiin.

Kubisikkan Untukmu

“Renungan Mutiara Hati di Bulan Suci”;

Lili Nur Aulia, Muhammad;

Jakarta, Tarbawi Press

Cetakan I, Agustus 2007

%d blogger menyukai ini: