jump to navigation

Hari Ketujuhbelas

MUJAHADAH ARTINYA LAWAN NAFSUMU

Saudaraku,

Dalam sebuah hadis hasan, Rasulullah SAW bersabda, “Seorang mujahid adalah yang melawan hawa nafsunya karena Allah.” Menurut Said Hawa dalam Al-Asas fi At Tafsir, Pada dasarnya melawan hawa nafsu bertujuan menundukkan nafsu agar ia mengikut kehendak Allah dalam setiap perkara. Karena bila nafsu dapat dikalahkan seseorang akan mengutamakan sesuatu yang dicintai Allah dan menyingkirkan kehendak pribadinya.

Ramadhan, adalah bulan mujahadah. Saat kita belajar memperkuat iradatu Allah (keinginan Allah) di atas iradatu an nafs (keinginan diri sendiri), dan mengendalikan keinginan jiwa yang bertolak dengan keinginan Allah. Ketika kita meningkatkan kesungguhan dan keseriusan untuk mengutamakan ketaatan daripada kemaksiatan. Karena di bulan ini, bahkan sesuatu yang lazimnya berstatus mubah (boleh) di hari selainnya, akan menjadi terlarang sepanjang bulan Ramadhan. Kita, betul-betul bermujahadah di bulan ini, agar kita menjadi orang-orang yang berlabel mujahid, sebagairnana sabda Rasulullah SAW di atas.

Saudaraku,

Dalam lhya Ulumuddin Imam Al-Ghazali menulis, Antara tanda kecintaan seorang hamba kepada Allah adalah dia mengutamakan sesuatu yang disukai Allah daripada kehendak nafsu pribadi, baik dalam aspek lahir maupun batin. Karenanya, seseorang yang mencintai Allah sanggup memikul pekerjaan yang berat serta sanggup melawan hawa nafsunya karena Allah SWT. Sebaliknya, dia takkan sanggup melakukan kemaksiatan. Terkait dengan hal ini Abdullah ibn Mubarak berkata, ‘Jika cintamu benar, engkau akan mentaati-Nya karena seseorang yang mencintai sesuatu akan mentaatii yang diinginkan oleh sesuatu itu:’

Saudaraku,

Ada kaitan yang lebih kuat antara mujahadah, puasa yang kita lakukan dan ketakwaan sebagai hasil yang diinginkan dalam berpuasa. Karena mujahadah sesungguhnya adalah jembatan pada takwa, ini dilukiskan oleh Said Hawa dalam Al Asas fi At Tafsir, “Takwa merupakan hasil hidayah dan hidayah merupakan hasil daripada mujahadah. Mujahadah melawan hawa nafsu merupakan titik awal kepada takwa. Antara amal yang membantu upaya melawan hawa nafsu adalah membaca AI-Qur’an, shalat dan berdzikir. Nabi ketika disoal tentang jalan untuk mencapai surga telah menjawab, ‘Bantulah dirimu dengan banyak bersujud’. Banyak bersujud maksudnya banyak sholat dan banyak solat bermaksud banyak berdzikir dan membacaAl Qur’an.

Dalam surat Al Ankabut ayat 69 Allah SWT berfirman, “Mereka yang bermujahadah (yakni berjuang secara bersungguh-sungguh) pada jalan Kami akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” Fudhail Iyad mengomentari ayat ini dengan mengatakan, “Mereka yang bermujahadah untuk mencari ilmu, Allah akan tunjukkan kepada mereka jalan untuk beramal.” Junaid Al Baghdadi mengatakan, “Mereka yang bermujahadah dengan bertaubat, Allah akan tunjukkan kepada mereka jalan keikhlasan.” Sedangkan Abdullah bin Abbas RA menyebutkan, “Mereka yang bermujahadah untuk melakukan ketaatan, Allah akan tunjukkan kepada mereka jalan dan ganjaran.”

Saudaraku,

Bermujahadah, esensinya adalah memaksa diri untuk taat. Karena tabiat hawa nafsu itu adalah sesuatu yang dicenderungi oleh jiwa, maka, ketaatan adalah sesuatu yang tidak disukai oleh jiwa. Ketaatan baru bisa menjadi kenikmatan yang dirasakan oleh jiwa, ketika hawa nafsu sudah bisa dikendalikan. Karena itulah, kita perlu bermujahadah. Kita perlu memaksa diri untuk melakukan ketaatan.

Ingat saudaraku,

Seringkali pemaksaan diri baru terasa manfaatnya kelak di kemudian hari. Seperti seorang anak kecil, yang selalu dipaksa ibunya menggosok gigi. Kelak, ia akan menyadari, betapa pemaksaan itu begitu memberi arti bagi kesehatan giginya di usia dewasa. Sementana si anak ketika itu, mungkin lebih merasakan kegiatan menggosok gigi itu sebagai beban yang memenatkan. Dalam konteks kehidupan dunia dan akhirat, kita juga harus punya prinsip seperti itu. Betapa tidak ringan, memaksa diri untuk shalat malam, untuk berpuasa, dan menjauhi larangan Allah. Tetapi betapa bahagianya orang di surga kelak, ketika ia mendapati balasan dari Allah, ‘mendapati pahala yang telah dijanjikan Allah. Imam Ibnul Qayyirn mengatakan, “Hendaknya para orang tua selalu membiasakan anaknya untuk bangun di akhir malam. Karena ia adalah waktu pembagian pahala dan hadiah (dari Allah). Maka di antara manusia ada yang rnendapatkan bagian yang banyak, ada yang hanya mendapatkan sedikit, bahkan ada yang sama sekali tidak mendapatkannya. Sesungguhnya jika seorang anak telah terbiasa bangun di akhir malam sejak masa kecilnya maka akan menjadi lebih mudah baginya untuk membiasakannya di masa dewasanya.” (Tuhfatul Maudud fi Ahkamil Maulud, 241)

Sesungguhnya surga itu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak disukai. Sementara neraka dikelilingi dengan hal-hal yang disukai. Maka, untuk rnengharap surga Allah, salah satu jalan yang harus dilalui adalah memaksa diri untuk memilih jalan yang ‘tidak kita sukai’, dan meninggalkan jalan yang lebih disukai’.

Saudaraku,

Sebuah pekerjaan mungkin berat dilakukan, tapi akan menjadi lebih ringan dilakukan jika kita mengetahui apa manfaatnya. Karena itu, ketahuilah latar belakang dan alasan kenapa sebuah perbuatan baik harus dilakukan. Jangan merasa cukup mengikuti perbuatan baik hanya karena ikut-ikutan. Karena ikut-ikutan, pertanda suatu kebaikan tidak dilakukan secara konsisten. Dan berarti pula amal kebaikan itu akan putus di tengah jalan, dan menjadi sia-sia.

Dengan mengetahui manfaat suatu amal shalih, maka aktivitas akan dilakukan dengan dukungan kesadaran dan diri sendiri. Apa gunanya kita menegakkan shalat di waktu malam? Padahal itu adalah waktu-waktu yang sangat kita perlukan untuk istirahat? Tanpa mengetahui keutamaan dan manfaatnya, mungkin takkan pernah muncul keinginan apalagi tekad untuk bangun malam. Apa gunanya kita berdzikir kepada Allah? Apa gunanya kita tidak mengumbar pandangan kepada yang haram? Apa gunanya kita mentaati perintah Allah SWT? Kenapa kita harus menjaga diri untuk tidak larut dalam pergaulan yang tidak menghargai norma agama? Mengapa kita perlu berhati-hati dalam bergaul dengan lawan jenis? Cara mengetahuinya, bisa sangat sederhana. Lihat kondisi orang yang rajin melakukan shalat malam. Lihat keadaan orang yang kerap membasahi lidahnya dengan dzikir. Lihat nasib orang yang tidak tahu malu dan berada dalam perilaku yang haram. Lihat bagaimana orang-orang yang tenggelam dalam pergaulan dengan orang-orang yang tak mengenal agama. Lihat bagaimana orang yang tidak membatasi diri dalam bergaul dengan lawan jenis. ltu saja sebenarnya sudah cukup untuk membuat orang sadar akan kebaikan yang harus dilakukan.

Saudaraku,

Hati-hatilah, terlebih di bulan ini, dari keburukan Karena keburukan itu selalu mempunyai pintu-pintu. Satu buah pintu keburukan dibuka, maka ada banyak pintu keburukan lain yang minta dibuka. Sebagaimana kebaikan itu juga memiliki pintu. Satu buah pintu kebaikan dibuka, maka akan banyak pintu kebaikan yang minta dibuka. Itu kurang Iebih pesan yang pernah diutarakan oleb Imam lbnul Qayyim rahimahullah. Maksud yang terkandung dalam pesan itu adalah, sebuah keburukan bila satu kali saja dilakukan, maka akan mendorong orang untuk melakukan keburukan yang lain. Begitupun juga dengan kebaikan. Satu kebaikan dilakukan, maka seseorang akan terdorong untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang lain.

Perhatikanlah sabda Rasulullah SAW, “Fitnah itu akan ditimpakan ke dalam hati bagaikan tikar (yang membekas di tubuh) selembar-selembar. Maka hati yang menelan fitnah itu akan dititik dengan satu titik hitam dan hati yang mengingkarinya akan dititik dengan noktah putih, hingga hatipun menjadi dua hati. Hati yang putih bagaikan batu karang, hingga tak bisa dirusak oleh suatu fitnah selama masih ada langit dan bumi. Dan hati yang kusam bagaikan pinggan yang terbalik, tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari kemungkaran, kecuali yang sesuai dengan hawa nafsu saja yang direguknya.” (HR Muslim)

Saudaraku yang sedang berpuasa,

Kuatkan diri untuk terus bermujahadah. Amal shalih, ibadah, dzikir, menghindari yang haram tentu merupakan pekerjaan yang berat karena bertentangan dengan keinginan hawa nafsu. Terlebih ketika hawa nafsu manusia yang cenderung santai, menunda-nunda, istirahat, dan kita bisa mengangkat banyak alasan untuk mengatakan, “Tak apalah tak membacaAl Qur’an, toh saya sebelumnya sudah cukup banyak membacanya, tak apalah tidak shalat berjamaah karena kemarin-kemarin sudah kerap shalat jamaah.” Itu mungkin dalil yang muncul pertama. Selanjutnya, dalih itu bisa berkembang menjadi “Tak apalah tidak membaca Al Qur’an, karena masih banyak amal kebaikan lain yang saya bisa lakukan. Tak apalah tak mengerjakan shalat yang penting saya tetap puasa Ramadhan dan tidak mencuri, dan seterusnya.”

Jangan terombang ambing oleh bisikan syaitan saudaraku.

Ayo sekarang juga, bacalah Al Qur’an, berdzikir dan shalatlah…

%d blogger menyukai ini: