jump to navigation

Hari Ketujuh

Apakah Kita Merindukan Bulan Ini ?

Apakah kita termasuk yang merindukan kehadiran bulan Ramadhan, Saudaraku? Jika Ya, maka sekarang inilah keindahan bulan yang sangat kita rindukan itu, sedang bersama kita. Inilah masa-masa bahagia, masa-masa semakin dekatnya jiwa bersama Allah, masa-masa kedamaian hati yang belum tentu kita temui saat ia tidak bersama kita lagi.

Saudaraku,

Hiruplah dalam-dalam udara malam-malam Ramadhan ini. Hiruplah dalam-dalam udara sahurnya. Kita kini sedang berada pada hari-hari istiwewa. Kelak kita akan berpisah dengan bulan terindu yang keutamaannya tak dapat dikalahkan oleh apapun yang terindah dalam hidup ini.

Lihat lagi bagaimana sabda Rasulullah, “Barangsiapa melakukan satu ibadah sunnah dalam bulan Ramadhan, maka ia seperti orang yang melakukan ibdah wajib di bulan selain Ramadhan. Dan barangsiapa yang melakukan ibadah wajib di bulan Ramadhan maka ia seperti orang yang melaksanakan 70 ibadah wajib di selain bulan Ramadhan.”(HR. Ibnu Khuzaimah). Apakah kita sudah meraih pahala kebaikan yang berlipat-lipat itu?

Lihatlah lagi bagaimana sabda Rasulullah, “Ada dua kegembiraan bagi orang yang berpuasa, kegembiraan saat berbuka dan kegembiraan tatkala bertamu dengan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Apakah kita benar-benar ingin menikmati momentum kegembiraan di kala buka puasa dan bertamu dengan Allah kelak?

Lihatlah lagi, bagaimana sabda Rasulullah, “Barangsiapa yang berpuasa karena keimanan dan semata-mata mengharap pahala, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari dan Muslim). Apakah kesempatan bulan ini sudah digunakan untuk memperoleh ampunan Allah terhadap dosa-dosa kita yang menggunung ?

Saudaraku,

Jika rasulullah bersabda, “Barangsiapa menunaikan qiyamul lail pada bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim) Sudah berapa banyak kita menunaikan shalat malam dengan jaminan pahala ampunan dosa dan kekhilafan, yang kita sudah tenggelam di dalamnya.

Jika Rasulullah bersabda, “Siapa saja yang shalat tarawih bersama imam hingga selesai, akan ditulis baginya pahala shalat semalam suntuk.” (HR Abu Daud, Tirmidzi, An Nasai dan Ibnu Majah) Bagaimana dengan kualitas ibadah shalat tarawih yang sudah kita lakukan ?

Saudaraku,

Jika para salafushalih, selama bulan ini berlomba memperbanyak membaca Al Qur’an. Malaikat Jibril memperdengarkan Al Qur’an kepada Rasulullah pada bulan Ramadhan. Utsman bin Affan menghatamkan Al Qur’an setiap hari pada bulan Ramadhan. Sebagian salafushalih mengkhatamkan Al Qur’an dalam shalat tarawih setiap tiga malam sekali, tujuh malam sekali, dan sepuluh malam sekali. Mereka selalu membaca Al Qur’an baik dalam shalat maupun di luar shalat. Imam Syafi’I dapat menghatamkan Al Qur’an sebanyak enam puluh kali di luar shalat dalam bulan ramadhan. Sementara Al Aswad menghatamkan setiap dua hari sekali. Qatadah selalu menghatamkannya setiap tujuh hari sekali di luar Ramadhan, sedangkan pada bulan Ramadhan ia menghatamkannya setiap tiga hari sekali. Dan pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan ia menghatamkannya setiap malam. Pada bulan ramadhan Imam AzZuhri menutup majlis-majlis hadits dan majlis-majlis ilmu yang biasa diisinya. Ia menghususkan diri membaca Al Qur’an dari mushaf. Dan Imam Ats Tsauri, beliau meninggalkan ibadah-ibadah lain dan menghususkan diri untuk membaca Al Qur’an.

Saudaraku,

Jika mereka demikian tinggi semangat dan mujahadahnya membaca Al Qur’an di bulan ini. Bagaimana dengan ibdah membaca Al Qur’an yang kita lakukan?

Jika Rasulullah senantiasa mencari malam Lailatul Qadr dan memerintahkan sahabat untuk mencarinya, lalu membangunkan keluarganya pada malam sepuluh terakhir dengan harapan mendapat malam Lailatul Qadr. Jika dalam Musnad Ahmad dari Ubadah, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang bangun sebagai usaha untuk mendapat malam Lailatul Qadr, ia benar-benar mendapatkannya dan miscaya akan diampuni dosa-dosanya yang lalu dan yang akan dating.” Jika kaum salaf dari kalangan sahabat dan tabi’in mandi dan memakai minyak wangi pada sepuluh malam terakhir untuk mencari malam Lailatul Qadr, malam yang telah di muliakan dan diangkat derajatnya oleh Allah. Apakah kita akan melewatkan kesempatan yang tak pernah terbayar dalam seluruh hidup kita sekalipun ini yang berarti kita tidak berhasil memperoleh keberuntungan 1000 bulan.

Saudaraku,

Jangan sia-siakan detik-detik bulan ini. Rasakan benar-benar kehadiran kita disini, di bulan ini. Lantunkan dzikir, tilawah Al Qur’an, munajat, permohonan ampun di sini.

Buang kepenatan, hilangkan rasa lelah. Hanya untuk hari-hari ini saat kita masih bersama bulan penuh kemuliaan. Kejarlah segala yang terluput dari diri, Jangan tunda lagi.

Kita bermohon hidayah, ketakwaan, kesucian dari dosa dan ketidaktergantungan dengan manusia. Shalawat dan salam semoga tercurah pada Muhammad, keluarga dan sahabat semua.

%d blogger menyukai ini: