jump to navigation

Hari Ketiga

“Sihir” Al-Qur’an Kenapa Kita Tidak Merasakannya ?

Saudaraku,

Jika kita merasakan kegersangan dalam hidup, berwudhu dan bacalah Al-Qur’an. Atau, dengarkanlah ayat-ayat suci Al Qur’an. Al Qur’an itu benar-benar penawar bagi jiwa. Ia mempunyai kekuatan besar yang bisa mempengaruhi hati dan kondisi jiwa orang yang membaca dan mendengarnya.

Lihatlah Saudaraku,

Bagaimana reaksi orang-orang kafir saat Al Qur’an baru diturunkan? Dahulu, orang-orang kafir Quraisy begitu tersentuh dan terguncang jiwanya saat mendengar ayat-ayat Al Qur’an. Mereka mengatakannya seperti sihir yang menguasai hati dan jiwa, bila didengarkan. Karena khawatir terpengaruh, diantara orang-orang kafir itu bahkan memerintahkan teman-temannya untuk tidak mendengarkan Al Quran. “Dan berkatalah orang-orang kafir,janganlah kalian mendengarkan Al Qur’an dan munculkanlah keributan saat pembacaannya, semoga kalian mampu menang.” (QS. Fushilat : 12).

Abul Walid, seorang pemuka Quraisy pernh mendatangi Rasulullah untuk menentangnya. Setelah ia puas mencaci maki, Rasulullah balik bertanya, “ Sudah selesaikah wahai Abul Walid? Sekarang dengarkanlah dariku, “ kata Rasulullah dilanjutkan dengan bacaan surat Fushilat ayat 1 hingga 13. Abul Walid tiba-tiba meletakkan tangannya di mulut Rasulullah, tanda agar Rasul tidak menyempurnakan bacaannya. Ia lalu kembali ke kaum yang mengutusnya dengan sikap yang berbeda. Saat ditanya, ia mengatakan, “Aku mendengarkan darinya kalimat yang bukan kalimat jin dan bukan kalimat manusia… Demi Allah, kalimat itu sangat nikmat…”

Saudaraku,

Seperti itulah “sihir” yang dimunculkan oleh AlQuran dalam jiwa orang-orang kafir dahulu. Ternyata, mendengarkan Al Qur’an dengan penghayatan, begitu luar biasa pengaruhnya dalam jiwa seseorang. Mendengarkan ayat-ayat Al Qur’an dengan tenang dan diamnya anggota tubuh, ternyata bisa lebih merengkuh hati. Itulah sebabnya, mengapa Rasulullah pun suka bila dibacakan di hadapannya ayat-ayat Al Quran, meskipun ayat-ayat itu juga turun atas dirinya. Itulah yang dimintakan Rasul kepada Ibnu Mas’ud suatu ketika, lalu Rasulullah mengatakan, “cukup… cukup…”, ketika Ibnu Mas’ud rahimahullah sampai pada ayat 14 surat An Nisa.

Ibnu Bathal menguraikan penjelasannya dari hadits ini, seperti dikutip dalam Fath Al Bari, “Mungkin Rasulullah lebih suka diperdengarkan Al Qur’an dari orang lain, untuk lebih dapat merasakan. Atau agar ia lebih dalam mentadaburi dan memahami isinya. Itu karena orang yang mendengar biasanya lebih kuat tadabburnya. Jiwanya lebih serius mengikuti bacaan ketimbang orang yang membacanya karena disibukkan dengan membaca dan hukum-hukum bacaan.”

Saudaraku,

Pengaruh bacaan Al Qur’an tidak hanya mempengaruhi jiwa da hati manusia. Al Qur’an juga sangat mempengaruhi jin ketika dibacakan. Itulah yang diuraikan dalam surat Al Jinn ayat 1 dan 2 : “Katakanlah (hai Muhammad), Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan AL Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya Kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan. (yang) Memberi petunjuk kepda jalan yang benar, lalu Kami beriman kepadaNya. Dan Kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami

…. Juga dalam ayat 13 disebutkan, “Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk (Al Quran), kami beriman kepadanya. Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan.”

Bulan ini adalah bulan Al Quran,

Kita perlu merenungi pertanyaan, “Kenapa kita tidak merasakan “sihir” Al Qur’an yang seperti itu?

Thawus pernah berkata, bahwa Rasul ditanya, “Siapakah manusia yang paling baik suaranya membaca Al Qur’an dan paling baik bacaannya?” Rasul menjawab, “Yaitu orang yang jika engkau mendengarkannya, engkau lihat dirinya takut kepada Allah.” (HR. Muslim). Bahwa membaca Al Qur’an mempunyai kaitan erat dengan bobot ketakitan yang membaca kepada Allah. Artinya, bacaan yang bisa mempengaruhi jiwa kita, adalah di saat hati kita memiliki kedekatan dengan Allah, akan mempengaruhi tingkat pengaruh dan kekhusyuan bacaan kita terhadap Al Qur’an. Dan efek pengaruh itu, bukan hanya bisa dirasakan diri sendiri, tapi juga orang lain yang mendengarkannya.

Saudaraku,

Mendengarkan itu ibadah yang paling mudah dan bisa dilakukan di rumah, sambil bekerja, di dalam mobil, atau bahkan diatas motor. Ada banyak sarana yang bisa kita gunakan untuk sekedar mendengarkan yang baik dan memberi pencerahan bagi jiwa.

Sayangnya, kita justru terlalu banyak mendengarkan selain dari ayat-ayat Allah dan selain dzikrullah. Padahal, menurut ulama Al Qur’an, hubungan kita dengan Al Qur’an, baik dalam kaitan mempelajari isinya, membaca atau mendengarkan Al Qur’an sebagaimana kita membutuhkan makan dan minum. “Orang tua, sebaiknya memperhatikan Al Qur’an dan mengajarkannya untuk anak-anak seperti memberikan makanan dan minuman kepada mereka. Karena fondasi pendidikan adalah memperhatikan konsumsi fisik, pikiran dan ruhani mereka. Sehingga mereka menjadi manusia yang lurus, “begitu ujar Syaikh Muhammad Ar Rawi, Ulama Al Qur’an asal Mesir.

Ingatlah kita ketika seorang laki-laki datang kepada Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiallahu anhu, mengeluhkan perihal anaknya yang durhaka padanya. Umar meminta agar anaknya datang ke hadapannya, dan anak itu bertanya,” Apa hak orang tua atas anaknya?”. Umar menjawab, “Hak orang tua atas anaknya ada tiga hal. Memberikan nama yang abik, memilihkan ibu yang baik, dan mengajarkan Al Qur’an. Berkata lagi anak itu, “ Ayahku tak pernah melakukan itu, Ia tidak memberikan nama yang baik untukku, tidak memilihkan ibu yang baik dan tidak pernah mengajarkan Al Qur’an.” Amirul Mukminin lalu berkata, “Pulanglah kerumahmu, ayahmu sudah durhaka kepadamu sebelum engkau durhaka kepadanya…”

Kenapa pengajaran Al Qur’an menjadi sangat penting bagi orang tua untuk anak-anak mereka? Karena Al Qur’anlah yang akan ada selamanya, selama anak kita hidup,. Dialah yang akan tetap mendampingi mereka mengarungi hidupnya. Sementara kita akan tua dan menyelesaikan kehidupan ini. Al Qur’an adalah pembimbing dan pemberi batasan untuk mereka agar menang di dunia dan akhirat.

Saudaraku,

Kita perlu bertanya pada diri sendiri, mengapa kita tidak merasakan “sihir” AL Quran, sebagaimana dirasakan oleh orang-orang kafir, bahkan jin? Apakah Al Qur’an begitu jauh dari pikiran dan jiwa kita ? Kenapa Saudaraku…???

%d blogger menyukai ini: