jump to navigation

Hari Kesepuluh

Ingat, Ini Bulan Pertaubatan Kita

Saudaraku,

Ini adalah hari-hari mulia yang kemuliaannya tak pernah terbandingkan dengan hari-hari lain sepanjang hidup kita. Kita masih menghirup udara di bulan Ramadhan.

Bersyukurlah saudaraku,

Renungkanlah, bahwa di hari-hari ini kita sedang belajar untuk lebih mengutamakan akhirat ketimbang dunia. Di hari-hari ini, kita sedang sungguh-sungguh memperdalam sikap untuk memprioritaskan Allah Swt dibanding apa saja selain-Nya. Dihari-hari ini, kita sedang benar-benar menggali kedalaman makna mwnggantungkan diri hanya kepada Allah saja, bukan kepada selain-Nya. Sampai kita bisa mengerti sabda Rasul-Nya, bahwa, “Dunia ini terlaksat, terlaknat juga apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikrullah dan segala yang mendukungnya, serta orang yang belajar ilmu dan mengajarkannya.” (HR Tirmidzi).

Saudaraku,

Dunia ini terlaknat. Itulah yang disebut Rasulullah. Terlaknat ketika ia tidak diimbangi dengan dzikrullah. Terlaknat ketika tidak disertai hubungan yang baik dengan pencipta-Nya. Perhatikanlah bagaimana Abul Laits Assamarqandi meriwayatkan sabda Rasulullah yang lain,”Siapa yang niatnya ke akhirat maka Allah Swt akan menghimpun bainya semuanya dan dijadikan kaya hati dan datang kepadanya dunia merendah diri. Dan siapa yang niatnya dunia maka Allah akan mencerai beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinannya selalu membayang di ruang matanya dan tidak akan datang kepadanya dunia kecuali yang ditentukan baginya.”Abul Laits lalu mengomentari: “Siapa yang sempura akalnya, maka ia rela dengan sederhana didunia, sibuk memperbanyak dan beramal untuk akhirat sebab akhirat itulah tempatnya nikmat kekal, sedang dunia akan rusak, tipuan dan fitnah.”

Saudaraku,

Bulan ini adalah karunia teramat mahal dan indah untuk kita. Karena bulan inilah tempat terminal kita untuk bersuci, membersihkan diri, kembali meluruskan arah dan orientasi perjalanan hidup yang barangkali sudah mulai menyimpang dari kehendak Allah. Kembali memfokuskan pandangan kita untuk akhirat. Kembali menyadari kedudukan kita sebagai hamba Allah, yang seharusnya tunduk dan patuh kepada Allah.

Mari bersyukur saudaraku. Itulah yang harus kita lakukan, karena Allah masih memberikan kesempatan kita untuk memperbaiki diri. Memulai lagi sebuah lembaran baru yang lebih baik dan terang, meluruskan kembali seluruh langkah kehidupan pada bilan ini. Dan yang penting mengaplikasikan syukur itu dengan melakukan segala yang diridhai Allah.

Bayangkanlah saudaraku,

Jika kita memposisikan diri sebagai orang yang sudah mati lalu memohon kepada Allah untuk dikembalikan kedunia, dan ternyata permohonan itu dikabulkan. Apakah kita akan mengulangi dosa-dosa yang kita lakukan? Apakah tidak selayaknya kita merubah jalan hidup dan perilaku keliru ? Dunia ini tidak boleh melalaikan kita dari ibadah, dzikir dan bersyukur kepada Allah. Kita tidak boleh mengkhianati amanat Allah, dan jangan sampai meninggalkan tanggung jawab sebagai hamba Allah. Dunia ini memang takkan pernah habis untuk dikejar. Kesibukan kita didalamnya tidak akan pernah menemukan kata usai. Upaya kita untuk berpacu dan berlomba memperebutkan tidak pernah berakhir pada kata, cukup. Terlalu banyak ibarat yang disampaikan para ahli hikmah tentang dunia. Hingga Umar bin Khattab mengatakan, “Jika engkau orang yang berambisi pada akhirat, jangan terpedaya jika engkau banyak mencapai ambisi dunia.” (Mausu’ah Rasa-il Ibnu Abi Duniya, 2/49)

Saudaraku,

Ini adalah saat kita bermandi dan bersuci dari dosa. Karena selama ini kita benar-benar telah diselimuti dan tenggelam dalam dosa. Kita terlalu banyak berpeluh untuk dunia, menangis untuk dunia, mencinati dunia, melebihi apa yang kita berikan untuk akhirat.

Mari kembali saudaraku,

Kita mungkin saja lebih memperbanyak sujud di bulan ini. Boleh jadi kita lebih banyak melakukan amal-amal sunnah dan lebih sering membaca Al Qur’an di bulan ini. Tapi barangkali amal-amal itu belum membawa kesadaran kita untuk bertaubat. Kita masih lalai dari perasaan kecil dan hina di hadapan Alah Swt. Kesibukan kita dalam beribadah, boleh jadi mengurangi keseriusan kita untuk mengakui kepasrahan, kerendahan, kehinaan di hadapan Allah. Kepadatan jadwal ibadah kita, mungkin menyedot perhatian kita dari perasaan banyak berdosa dan tidak mendorong kita untuk menyadari banyaknya kekeliruan dan dosa selama ini.

Lihatlah bagaimana perkataan Ibnu Sirin rahimahullah. Suatu hari ia mengatakan, “Aku menyadari dosaku yang menjadikan aku memiliki hutang.” Sahabatnya bertanya, “Dosa apa itu ?” Ibnu Sirrin menjawab, “Dahulu, 40 tahun lalu aku pernah mengatakan kepda seseorang “hai orang yang bangkrut”, karena dosa itulah ternyata aku sekarang berada dalam kondisi tidak punya harta dan harus berhutang.” Ketika Abu Sulaiman, ia berkata,”Mereka adalah orang-orang yang dosanya sedikit, sehingga mereka mengetahui dari mana saja dosa-dosa itu datang kepada mereka. Sementara aku, dosa-dosaku sudah terlalu banyak, sehingga aku sulit mengetahui dari mana saja aku didatangi oleh dosa-dosa itu.” Indah sekali bila kita memiliki hati seperti Ibnu Sirin. Hati yang peka. Meski telah melakukan kesalahan, tetapi ia tetap bisa mengingat, menyadari, mengetahui dan menyesali kesalahan itu. Lalu ia mengakhirinya dengan taubatun nasuuh, taubat sejati.

Saudaraku,

Mari pejamkan mata. Tundukkan hati dan batin. Tenggelamkan semua perasaan kita di hadapan kemuliaan dan kuasa Allah yang tak ada batasnya. Ucapkanlah do’a yang penuh makna dari lisan Hasan Al Bashri rahimahullah, :Ya Allah, aku berlindung dari merasa agung dan mulia dalam jiwaku sendiri. Sementara di dalam jiwa orang lain aku kecil dan hina.” (Mausu’ah Rasa-il Ibnu Abi Dunia 2/58)

%d blogger menyukai ini: