jump to navigation

Hari Kesembilanbelas

Menjadi Manusia Akhirat

Ketika berdo’a,” kata Umar ra, “Aku tidak memiliki obsesi agar do’a itu terkabul. Obsesiku hanyalab pada ucapan do’ a itu sendiri. Karena apabila aku terinspirasi untuk berdo’a, pengabulan do’a itu pasti datang beriringan tatkala do’a itu diucapkan.”

Sungguh benar perkataan Umar bin Khattab ra. Sebab memang tidak semua do’a akan terkabul. Misalkan ada orang yang berdo’a meminta ditimpakannya sesuatu yang tidak disukai kepada seseorang, dengan alasan apapun, maka do’a ini pasti tertolak. Do’a seperti ini adalah efek dan kebencian dan permusuhan terhadap seseorang.

Tapi do’a adalah sulbi ibadah. Do’a juga merupakan puncak keimanan dan menjadi rahasia di balik munajat yang disampaikan seorang hamba kepada Tuhannya. Jika seuntai do’a terpancar dan hati seorang hamba yang sadar terhadap Tuhannya, mencintai apa yang dicintai-Nya, maka do’a itu pasti mendapat tempat di Arasy Allah tk.

Saudaraku,

Suatu ketika, Umar bin Khattab duduk kelelahan di atas tumpukan tanah dan kerikil, usai berkeliling melihat kondisi rakyatnya. Peluh keringat masib jelas tampak di wajahnya. Ia terduduk dan berkata, “Ya Allah, usiaku sudah semakin uzur, tubuhku sudah semakin ringkih karena tua, dan rakyatku kini semakin banyak. Kembalikanlah aku kepada¬Mu dalam kondisi tidak menyia-nyiakan mereka dan dan dalam kondisi tidak termakan oleh fitnab. Tetapkanlah bagiku kematian sebagai syahid di jalan-Mu, dan wafat di tanah Rasul-Mu.

Saudaraku,

Perhatikanlah bait-bait do’a yang dipinta Umar itu. Tidak panjang yang dipinta Umar ketika itu. Tapi adakah Umar meminta sesuatu urusan dunia di dalam do’anya? Adakah obsesi dan keinginan duniawi masuk dalam do’a Umar kepada Allah? Apa yang diharapkan oleh Umar ~ dalam do’a-do’anya? Umar hanya menyampaikan ke¬pada Allah bahwa tubuhnya sudah renta dan usianya yang sudah uzur. Sementara di sisi lain, ia makin menya¬dari bahwa kewajiban yang harus ditunaikannya semakin banyak. Umar menumpahkan perasaan hatinya itu kepada Allah SWT. Umar meminta perlindungan Allah dan badai fitnah yang mungkin menimpanya dalam situasi seperti ini. LaIu, Umar u~ memohon agar kematiannya adalah syahid di jalan Allah dan tempat wafatnya adalah kota Madinah Munawwarah.

lndah sekali tujuan yang diinginkan Umar dalam do’anya. Mulia sekali perasaan yang tercurah dalam do’a-do’a Umar. Damai sekali kandungan makna cinta dan kerin¬duannya kepada Rasulullah ~, hingga ia memohon agar jenazahnya berada tidak jauh dari jenazah Rasulullah ~ yang mulia.

Saudaraku,

lnilah obsesi yang mulia yang dimiliki Umar. Ia memang tidak pernah sedikitpun tergantung pada urusan harta dan dunia dalam hidupnya setelah menyatakan beriman kepada Allah dan Rasulullah ~. Umar kehidupannya sangat seder-hana, dan selalu lebih mementingkan orang lain dalam soal dunia. Dialah khalifah yang begitu hati-hati menjaga harta kaum Muslimin hingga mengatakan, Posisiku terhadap harta baitul maal tidak lebih dari orang yang menjaga harta anak yatim.”

Saudaraku,

Bait-bait do’a yang diucapkar: Umar ~itu naik ke langit. Penggalan-penggalan permohonan yang muncul dan hati seorang shalih yang selalu berkeliling untuk memperhatikan orang lain, membagikan cintanya kepada banyak orang itu, diterima oleh Allah – Seluruh pintanya terkabul. Ia sungguh-sungguh mati syahid karena tikaman seorang fasiq di dalam masjid. Darahnya mengucur membasahi tanah Rasulullah SAW.

Saudaraku,

Sesungguhnya kunci keterkabulan itu ada pada bait-bait do’a yang kita ucapkan itu. Bait-bait do’a yang diajarkan Umar adalah bait-bait do’a yang benar-benar mengutamakan keakhiratan, bukan keduniaan. Karena do’a tentang keduniaan, adalah tanda seseorang kurang memperhatikan akhirat. Karena sebaliknya, do’a tentang keakhiratan, selalu melampaui dunia yang menyebabkan dunia akan mengikuti akhirat. Itulah yang dikatakan Rasulul¬Iah ~, “Barangsiapa berpagi-pagi dan akhirat menjadi obsesi terbesarnya, maka Allah akan menghimpun seluruh kebutuhannya untuknya dan menjadikan kekayan ada di dalam hatinya. Lalu dunia akan mendatanginya dengan menunduk. Dan barangsiapa yang dunia menjadi obsesi utamanya, makaAllah akan membuyarkan impiannya, dan menjadikan kemiskinan di depan matanya dan dunia tidak akan mendatanginya kecuali apa yang sudah ditetapkan untuknya.” (HR. Turmudzi).

Sepertijuga ucapan Mu’adz bin Jabal ra, “Wahai manusia, engkau memang memerlukan bagianmu dan dunia. Tapi engkau lebih memerlukan bagianmu di akhirat. Jika bagianmu bermula dari akhirat. Maka bagianmu kepada akhirat akan terlewati. Maka atunlah dengan sebaik-baiknya. Tapi hila engkau rnemulai dan bagianinu di dunia, maka bagianmu di akhirat akan hilang sedangkan bagian duniamu terancam bahaya.”

Saudaraku,

Berbahagia dan bersyukurlah dengan keadaan ini. Perhatikanlah bagaimana dalamnya makna ucapan Umar ketika ia tenilhami untuk berdo’a dan pengabulan do’a itu selalu beriring ketika ia mengucapkan do’a.

Saudaraku,

Maka, tanamkanlah obsesi akhirat di sini, di dalam hat idan dada kita. Bersihkan sedikit demi sedikit, dominasi dunia yang sudah lama menjadi raja dalam hati kita. Letak¬kanlah pandangan akhirat di sini, di dalam kelopak mata. Hamparkanlah perjalanan menuju akhirat di sini, di hadapan setiap kaki kita melangkah. Mar menjadi manusia-manusia akhirat. Bukan manusia-manusia di dunia. Karena seperti ungkapan lbnul Qayyim rahimahullah, “Jika hanya Allah yang kamu tuju, maka kemuliaan akan datang dan mendekat kepadamu, serta segala keutamaan akan menghampirimu. Kernuliaan sifatnya mengikut. Artinya, jika kamu menuju Allah, kemuliaan akan mengikutimu. Tapi jika kamu hanya mencari kemuliaan, Allah akan meninggalkanmu. Jika kamu telah menuju Allah kemudian tergoda untuk mencari kemuliaan selain bersamaAllah, makaAllah dan kemuliaan-Nya akan pergi meninggalkanmu.”

Mari hidup hanya untuk Allah saudaraku… .Hanya untuk Allah…

%d blogger menyukai ini: