jump to navigation

Hari Kesebelas

KITA HANYALAH GUGUSAN WAKTU

Saudaraku, Perhatikanlah firman Allah SWT, “Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, semoga kalian bertakwa…. (yaitu) pada hari-hari tertentu. . . (QS. AlBaqarah:183-184)

Kata-kata “ayyaman ma ‘duudaat” yang berarti, hari-hari tertentu, memiliki makna yang dalam. Hari-hari tertentu, yang berarti juga telah ditetapkannya sejumlah hari, sekaligus pertanda bahwa hari-hari itu telah dibatasi, maka pada waktunya akan segera habis dan terlewati. Dan bila itu dipahami, kita akan mengerti makna besar di balik ungkapan ayyaman ma ‘duudaat, yakni kedekatan orang pada jatah hari yang diberikan kepadanya sampai han terakhirnya.

Saudaraku,

Kita wajib menunaikan ketaatan terkait dengan waktu. Ketaatan waktu itu adalah shalat, puasa, shalat malam, membacaAl Qur’an dan lainnya. Ini karena waktu kita terbatas. Itulah yang diwasiatkan Rasulullah SAW kepada Ibnu Umar radhiallahu anhuma, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang yang sedang bepergian.” Ibnu Umar sendiri pemah mengatakan, “Jika datang waktu pagi, jangan kau tunggu waktu sore. Dan jika datang waktu sore jangan engkau tunggu waktu pagi. Gunakanlah waktu sehatmu untuk waktu sakitmu. Gunakanlah waktu hidupmu untuk kematianmu.” Ya. Ayyaman ma ‘duudaat. Hari-hari yang telah dihitung, yang terbatas, dan terbilang jumlahnya. Ingatlah bila hari-hari yang terhitung itu habis hitungannya. Lalu kita harus meninggalkan sanak kerabat dan sahabat. Tak ada pengunjung yang bisa menunda habisnya hari. Tak ada pembatas yang bisa menghindarkan kita dan kedatangan hari perpisahan.

Abu Darda menaiki masjid Damaskus dan berkata, “Wahai penduduk Damaskus, tidakkah kalian mendengar nasihat dan saudara kalian bahwa orang-orang sebelum kalian telah mengumpulkan banyak harta, membangun banyak bangunan yang megah, berangan sangat jauh, tapi semua yang dikumpulkan itu sudah hilang tak berharga sepenti debu, bangunan mereka adalah kuburan, dan angan-angan mereka itu adalah tipuan saja. Dia juga mengatakan, “Tiga hal yang membuatku tertawa tapi kemudian membuatku menangis. Pertama, orang yang memburu dunia sementara kematian mengejarnya. Kedua, orang yang tertawa terbahak bahak tapi tidak tahu apakah Tuhannya ridha atau pun tidak kepada dirinya. Ketiga, orang yang lalai tapi dia tidak pernah luput dan dilalaikan dari pantauan Allah.”

Ayyaman ma ‘duudaat. Hari-hari yang terhitung. Hari-hari yang terbatas. Hari-hari yang dijatahkan. Keberadaan kita di dunia ini, adalah ayyaman ma ‘duudat. Kehidupan kita di atas harta duniamu adalah ayyaman ma ‘duudat. Bahkan keberadaan kita di bawah tanah, di liang kubur, juga, ayyaaman ma duudaat. Tapi jika memasuki surga, tak ada batasan waktu lagi. Begitupun, jika kita berakhir di neraka semoga Allah melindungi kita dari kengerian dan siksanya tidak ada lagi hari-hari yang dibatasi. Tidak ada lagi ayyaaman ma ‘duudaat.

Saudaraku,

Kelak, “Tak ada kerugian yang paling dirasakan para penduduk surga kecuali waktu-waktu yang mereka lewati tanpa berdzikir kepada Allah,” demikian sabda Rasulullah saw. Maka, kita harus benar-benar mengisi waktu, mengisi hari, mengisi menit, dan detik. Waktu-waktu kita memang dibatasi. Rasulullah SAW bersabda, “Usia umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit saja dari mereka yang melewati itu.” Diriwayatkan dalam sebuah atsar bahwa Malaikat Maut berkata kepada Nabi Nuh, “Wahai Nabi yang paling panjang usianya. Bagaimana engkau memandang dunia?” Nabi Nuh menjawab, “Aku menilai dunia seperti sebuah ruangan yang mempunyai dua pintu. Aku masuk dari salah satu pintu dan keluar dan pintu yang lain.”

Termasuk di antara karakteristik waktu adalah, waktu ketika telah berlalu tak mungkin diulang kembali. Allah SWT telah menjatah nafas terbatas yang bisa kita hirup. Setiap kali seorang hamba bernafas, ketika itulah jatah nafasnya berkurang sampai menuju batas akhimya. Ketika ruh keluar dari jasad, saat itulah nafas terakhir dikeluarkan dan seseorang akan meninggalkan keluarga dan semua yang dicintainya, tanpa ada harapan lagi untuk kembali. Maka, Syaikhul Islam lbnu Taimiyah rahimahullah pun sangat menghargai waktunya. Sang anak menceritakan tentang ayahnya, yakni Ibnu Taimiyah rahimahullah, “Ayahku, bila ia keluar dan kamar kecil, ia memberiku Al Quran dan mengatakan, bacakanlah padaku ayat Al Quran….” Disebutkan bahwa Sulaiman bin Hamzh usianya telah mendekati sembilan puluh tahun dan ia mengatakan, “Aku tidak melakukan shalat wajib sendirian, kecuahi hanya dua kali saja. Dan terhadap dua shalat itu, aku merasa belum melakukan shalat karena dilakukan dengan sendirian, tidak berjamaah.”

Yazid Raqashi menangis dan mengatakan kepada dirinya sendini, “Ya Yazid, siapakah yang menangisimu setelah dirimu meninggal, siapakah yang bisa memintakan ridha Tuhanmu atas dirimu?” Adalah Imam An Nawawi tidak pemah tidur terlentang selama dua tahun saat ia menuntut ilmu. Ketika ditanya alasannya, “Bagaimana engkau tidur wahai Imarn?” Ia mengatakan, “Aku tidur bertelekan dengan buku-buku.”

Saudaraku,

Sujudlah. Mendekatlah kepadaAllah SWT di bulan ini dengan bersujud di bulan ini . Manfaatkan waktu demi waktu yang berjalan saat ini. Apa yang terbersit di pikiran kita jika mendengar ‘proyek 3000 kali sujud dalam rentang waktu saw bulan? Itu semua bisa kita lakukan dalam bulan ini, bulan Ramadhan. Perhatikanlah, 3000 kali sujud, sama dengan 1500 rakaat, dan sama dengan 50 rakaat dalam satu hari satu malam. Jumlah 50 rakaat satu hari satu malam itu bisa diperoleh dengan 17 rakaat shalat wajib, 12 rakaat shalat sunnah rawatib, 8 rakaat tarawih, 3 rakaat witir, 2 rakaat dhuha, 10 rakaat shalat sunnah wudhu sebelum shalat. Bahkan semuanya bisa Iebih dan 50 rakaat.

Saudaraku, Mari benlomba.

“Dan untuk itu hendaklah orang-orang yang benlomba itu saling berlomba.”. ( QS. Al Mutaffifin: 21)

%d blogger menyukai ini: