jump to navigation

Hari Kelimabelas

APA YANG SUDAH KITA UKIR ?

Berapa tahun usia kita hari ini ? Bagi kita yang sudah menapaki usia tiga puluhan atau empat puluhan, bahkan mungkin di atas empat puluh, bagaimana kita memandang orang-orang yang berusia Iebih muda? Bagaimana kita menilai mereka yang usianya masih belasan tahun atau dua puluhan tahun? Pernahkah kita memandang mereka dengan pandangan bahwa kita lebib senior, lebih berpengalaman, lebih banyak memainkan peran, lebih penting diperhitungkan? Pernahkah kita menilai mereka sebagai orang-orang yang harus lebih banyak belajar dari kita yang sudah lebih lama hidup di dunia?

Saudaraku.

Tidak. Nilai hidup ternyata bukan hanya milik orang- orang yang telah berusia lebih banyak. Peran-peran besar ternyata tidak terkait dengan soal bilangan usia, sedikit ataupun banyak. Kedewasaan, ketangguhan, kehebatan seseorang, tidak identik dengan perjalanan usia seseorang. Boleh saja, ada orang tua yang rnenganggap kaum muda atau anak-anak yang berusia lebih sedikit, berarti lebih sedikit peran dan sumbangsihnya bagi kehidupan. Boleh saja,jika para senior menganggap orang para junior sebagai kelompok orang yang peranannya berada lebih rendah. Tapi anggapan seperti itu, tidak selalu benar. Sama tidak benar-nya dengan anggapan bahwa orang yang sudah lanjut usia, tidak bisa berperan lebih banyak ketimbang orang yang usianya masih muda. Sama tidak benarnya juga, dengan asumsi bahwa orang-orang yang lengkap anggota tubuhnya, lebih bernilai ketimbang orang-orang cacat.

Saudaraku,

Tahukah kita jika sejarah kegemilangan Islam, banyak dibentuk oleb tangan-tangan mereka yang berusia sepuluh hingga dua puluh tahun? Lihatlah bagaimana Allah SWT yang memuji Yahya bin Zakariya alaihimassalam yang masih anak-anak dalam firman-Nya, “Ya Yahya, arnbillah Kitab (Taurat) itu dengan sungguh~sungguh Dan Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) ketika ia masih kanak¬kanak.” (QS. Maryam 12,)

Nabi Muhammad ketika diangkat menjadi Rasul berumur 40 tahun sementara pengikutnya di generasi pertama, kebanyakan golongan pemuda dan tidak sedikit yang masih kanak-kanak. Mereka dibimbing oleh Rasulullah setiap hari di Darul Arqam antara lain, Ali bin Abi Talib dan Zubair bin Awwam, kedua-duanya berumur 8 tahun, Thalhah bin Ubaidillab (11), AI-Arqam bin Abi AI-Arqam (12), Abdullah bin Mas’ud (14), Saad bin Abi Waqqash (17), Jaafar bin Abi Thalib (18), Zaid bin Haritsah (20) dan lainnya.

Ketika dahulu Rasulullah menyeleksi seorang pemimpin di kalangan sahabatnya untuk menjadi utusannya, Rasul memilih siapa di antara mereka yang paling banyak hafalan Al Qur’annya. Ternyata yang paling menguasai hafalan Al Quran ketika itu adalah Amr bin Salmah Al Jarami yang usianya masih belasan tahun. Rasulullah mengangkatnya sebagai imam, ketika ia masih dalam usia kanak-kanak. Amanah dijalani oleh Amr bin Abi Salmah, sebagaimana ia katakan, “Aku tidak mendapati suatu komunitaspun kecuali aku ditunjuk sebagai imam mereka. Hingga aku menshalati jenazah para sahabat, sampai hani ini.” (HR. Ahmad)

Saudaraku,

Ada pula peran besar yang dilakukan Abdul Qadir Al Jailani, ketika ia masih berusia belasan tahun. Dalam kisah yang ia sampaikan sendiri, ia berhasil mengajak sekelompok perampok yang semula ingin merampas harta miliknya, hingga akhirnya mereka memeluk agama Allah. Dengarkan ceritanya:

“Aku berjanji untuk berlaku jujur. Saat aku pergi dari Makkah ke Baghdad untuk menuntut ilmu. Ibu membekaliku uang 40 dinar. Kepada ibu, aku benjanji untuk bersikap jujur. Di wilayah Hamadan, sekelompok perampok menghalangi jalan. Salah satu mereka mendatangiku dan bertanya, “Kamu punya apa?” Aku katakan, “Empat puluh dinar.” Perampok itu terkejut dan menduga aku berkelakar. Aku dibawa kepada pimpinan perampok. Ia heran dan mengatakan, “Kenapa engkau jujur?” Aku jawab, “Aku sudah berjanji pada ibuku untuk berlaku jujur. Aku tidak mau mengkhianati janjiku pada ibu.” Mendengar jawaban itu, pimpinan perampok itu menangis Ialu mengatakan lirih, “Engkau takut mengkhianati janjimu pada ibumu, tapi aku tidak takut mengkhianati janjiku kepada Allah”

Seluruh harta benda yang dirampok dan rombongan Abdul Qadir dikembalikan. Sang pimpinan perampok itu mengatakan, “Aku bertaubat kepadaAllah di hadapanmu.” Taubat itu disambut anak buah perampok dengan pernyataan, “Engkau adalah pemimpin kami dalam berbuat kejahatan, dan engkau sekarang adalah pemimpin kami dalam taubat.” Mereka semua bertaubat.

Saudaraku,

Iyas bin Mu’awiyah adalah contoh lain. Ia seorang belia yang memiliki peran besar di zamannya. Ketika belum melewati 16 tahun, Ia sudah dijadikan imam oleh sekitar 400 orang ulama dan pemimpin di wilayahnya. Khalifah melihat hal itu marah dan ingin memberi pelajaran etika kepada lyas bin Mu’awiyah. Ia mengatakan, “Berapa usia kamu, anakku?” lyas menjawab dengan jawaban yang sangat mengejutkan,”Usiaku wahai Amirul Mukminin, seperti usia Usamah bin Zaid tatkala memimpin pasukan yang di dalamnya terdapat sahabat Rasulullah SAW, Abu Bakar Shiddiq ra.” Khalifah terkejut dan kecerdasan lyas dan kecepatannya dalam menjawab secara jenius.

Imam athThahawi, penghafal Al Quran dan hadits. Ia hidup sezaman dengan para imam ahli Huffazh para pengarang/penyusun enam buku induk hadits (al-Kutub as-Sittah), dan bersama-sama dengan mereka dalam riwayat hadits. Umurnya ketika imam Bukhari wafat adalah 17 tahun, ketika imam Muslim wafat ia berumur 22 tahun, ketika imam Ibnu Majah wafat ia berumur 34 tahun, ketika imam Abu Dawud wafat ia berumur 36 tahun, dan ketika imam Tirmidzi wafat ia berumur 40 tahun.

Semoga Allah SWT menjadikan kita semua sebagai orang yang bisa mendengarkan suatu perkataan dan bisa mengambil yang baik dan perkataan itu. Shalawat dan salam atas Rasulullah Muhammad, kepada keluarga dan juga sahabatnya.

%d blogger menyukai ini: