jump to navigation

Hari Keenam

Hari ini, Jangan Berhitung, Keluarkan Hartamu di Jalan Allah

Saudaraku,

Suatu hari, Abdullah bin Mubarak rahimahullah berangkat menunaikan haji. Di tengah jalan, seekor burung untuk bekal yang mereka bawa, mati. Abdullah bin Mubarak meminta agar bangkai burung itu di buamng disebuah tempat sampah. Para sahabat Ibnu Mubarak lebih dulu di depan, sementara ia berada di barisan paling belakang. Ia terkejut, karena tidak beberapa lama, ada seorang anak perempuan yang mengambil bangkai burung itu dari tempat sampah dan segera lari ke dalam sebuah rumah.

Ibnu Mubarak tertegun dan segera mengikuti anak itu lalu bertanya, “Kenapa engkau mengambil bangkai burung itu?” Anak itupun menjelaskan bahwa ia dan keluarganya tidak mempunyai makanan apapun kecuali yang dibuanmg orang di tempat sampah itu. “Sudah beberapa hari kami menghalalkan makan binatang yang sudah menjadi bangkai,” ujarnya. Anak itu menerangkan lagi,”Ayah kami adalah orang berharta, tapi hartanya dirampas dan ia di bunuh.”

Mendengar hal itu, Ibnu Mubarak memanggil para sahabatnya dan bertanya, “Berapa total uang yang kalian punya?” Mereka menjelaskan jumlahnya berkisar seribu dinar. Ibnu Mubarak lalu mengatakan, “Sisakan 20 dinar untuk biaya pulang ke rumah kita. Sisanya, berikan kepada anak ini. Ini lebih baik dari pada haji kita tahun ini. “Setelah itu mereka semuanya kembali menyusuri jalan pulang, ke desa mereka masing-masing.

Saudaraku,

Ini kisah ratusan tahun lalu, tapi sebenarnya ada banyak orang yang bernasib seperti anak perempuan itu di zaman ini. Dan banyak diantara kita, umat Islam, yamh memiliki harta berlimpah. Tidak sedikit diantara kita yang hidup bukan dengan kecukupan harta, tapi juga berl;ebihan. Kita, mungkin ada diantara orang yang hidup dengan kecukupan atau berlebih itu.

Sayangnya, uang dan harta yang banyak itu benar-benar memerlukan jiwa yang pemurah untuk bias sampai ke tangan orang-orang papa. Sementara sebagian kita bahkan terpedaya syaitan dengan apa yang disampaikan dalam firman Allah Swt,

Syaitan menjadikan (menakut-nakuti) kamu engan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir).” (QS Al BAqarah : 268)

Saudaraku,

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah, “ Allah Swt memerintahkan hambaNYA yang beriman untuk berinfaq. Maksudnya adalah Sadaqah. Ketahuilah bahwa syaitan-semoga laknat Allah atasnya- selalu menakut-nakuti kalian dengan kemiskinan, agar mereka bias memegang kendali tanganmu untuk tidak mengeluarkan infaq. Sementara di sisi lain syaitan mendorong kalian menggunakan harta untuk melakukan bernagai kemaksiatan dan dosa.”

Padahal yang ditegaskan oleh Rasulullah justru kebalikannya. Lihatlah apa diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah bersabda,

Barangsiapa yang bersadaqah seberat biji korma dari perolehan yang baik dan Allah tidak menerima kecuali yang baik, maka Allah akan menerima shadaqah itu dengan “Tangan kanan-NYA”, kemudian membungakan harta sebagaimana kalaian, sampai harta shadaqah itu menjadi besar seperti gunung.” (HR. Bukhari)

Dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda,

Tidaklah seorang hamba memasuki pagi hari kecuali ada dua malaikat yang turun dan salah satu mereka berdo’a “ Ya Allah berilah ganti orang yang berinfaq.” Sedangkan yang satu lagi mengatakan do’a, “Ya Allah berilah kerugian orang yang pelit.” (HR Bukhari)

Saudaraku,

Tahukah kita bahwa shadaqah itu bias mematikan kemurkaan Allah dan menolak mati secara buruk, dan bahwa seorang Mukmin di hari kiamat akan dinaungi oleh shadaqahnya? Bersabda Rasulullah, “Ada tujuh golongan yang di naungi Allah di hari tidak ada naungan kecuali naunganNYA,” Rasulullah lalu menyebutkan ketujuh golongan itu dan salah satunya adalah “Seorang yang bersadaqah lalu ia menyembunyikan shadaqahnya sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya.”

Jika kita ingin menghapuskan dosa dan kesalahan, bersadaqahlah. Bahkan perbanyaklah bersadaqah, karena Rasulullah dalam sebuah hadits yang panjang mengatakan, “Aku melihat salah seorang dari umatku yang mukanya dijilati api neraka. Lalu datanglah kepadanya shadaqahnya sehingga shadaqah yang menjadi tameng antara dirinya dan neraka.” (HR Ibnu Al Jauzi, Al Illal Al Mutanahiyah, 2/697)

Itulah sebabnya, kondisi dan sikap para salafushalih dalam hal infaq, mereka mengeluarkan harta hingga tidak menghitung-hitung jumlahnya. Kita pasti sudah mendengar bagaimana kisah Abu Bakar Ahiddiq yang menginfaqkan semua hartanya. Lalu saat ditanya soal apa yang ia tinggalkan untuk keluarganya, ia menegaskan, “Aku meninggalkan untuk keluargaku, Allah dan RasulNYA”. Kita pasti juga sudah membaca kisah Umar bin Khattab yang bersadaqah dengan separuh hartanya. Kita pasti mendengar bagaimana Utsman bin Affan membekali pasukan Islam di masa paceklik (jaisyul usrah) dan ia membawa seribu dinar yang diletakkannya di depan Rasulullah. Lalu Rasulullah menrimanya dan mengatakan,

“Karena amalnya, Utsman bin Affan takkan tertimpa sesuatu yang membahayakan sejak hari ini.”

Saudaraku,

Harta ini memang milik Allah. Kita hanyalah penerima titipan yang Allah berikan. Cobalah mengerti dan mempercayai dengan baik bahwa apa yang kita terima sama sekali bukan lantaran kerja keras dan kesungguhan kita mencari rizki, melainkan karena kasih saying Allah yang menyalurkan rizkiNYA untuk kita. Cobalah kita renungkan, bahwa sesungguhnya apapun yang kita keluarkan di jalan Allah dengan niat karena Allah seluruhnya akan kembali kepada Allah, Yang Memberi Rizki, Yang Maha Rahmah, Yang Maha Kasih, Maha Pemurah. Dan ketika kita mengeluarkan harta di jalan Allah, berarti kita sekedar menyalurkan harta yang diberikanNYA kepada kita. Lalu, bila Allah ridha kepada kita melalui infaq yang kita keluarkan dan melalui keikhlasan serta keimanan kita kepada Allah, apa yang akan diberikan kepada kita dari Yang Maha Pemberi Rizki dan Maha Pemurah?.

Kita memohon kepada Allah, agar menjadikan kita orang-orang yang berinfaq, orang-orang yang beristighfar di waktu sahur. Maha suci Engkau ya Allah. Dengan memuji Engkau, kami bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Engkau. Kami beristighfar kepada Engkau dan bertaubat kepada Engkau. Semoga shalawat dan salam tercurah atas Rasulullah dan para sahabatnya semua.

%d blogger menyukai ini: