jump to navigation

Hari Keempatbelas

APA KABAR, IBU DAN BAPAK ?

Lemparkanlah ingatan kita ke masa-masa dahulu. Beberapa tahun atau puluhan tahun silam. Masa kanak-kanak hingga remaja, masa remaja hingga dewasa, sampai saat Allah SWT memberikan kesempatan hidup di detik ini di sini. Ada sosok paling penting yang mengiringi perjalanan hidup kita itu. Sosok yang tak pernah berharap atas pengorbanan apapun yang harus diberikan, untuk merangkai hidup kita dan waktu ke waktu. Mereka, pasti bukanlah sosok yang tanpa aib, tanpa cacat, tanpa kekurangan, tanpa kesalahan. Sebagaimana kita, yang pasti memiliki aib, cacat, kekurangan dan kesalahan. Tapi peran-peran besar mereka, tak mungkin diabaikan, dan harus dihargai secara luar biasa. Ya, sosok itu adalah sosok orang tua kita, ibu dan bapak. Saudaraku, Bertanyalah kepada diri sendiri, “Apa kabar ibuku? Apa kabar bapakku? Di manakah keduanya sekarang berada di bulan suci ini ?” Mungkin ada di antara kita yang telah kehilangan mereka di dunia ini. Tapi ada pula barangkali di antara kita yang masih diberi kesempatan bertemu dengan sosok-sosok penting itu hingga saat ini .

Berdo’alah saudaraku untuk kebaikan keduanya.

Pejamkanlah mata, dan ucapkanlah perlahan agar Allah SWT melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya untuk mereka. Pintalah agar Allah SWT selalu menaungi mereka dalam hidayah dan menghamparkan samudera ampunan bagi keduanya. “Ya Allah, ampunilah aku dan ampunilah kedua orang tuaku. Kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihiku di waktu kecil

Saudaraku,
Allah SWT rnenggandeng perintah terkait hak dua orang tua dengan perintah ibadah kepada-Nya. ltu difirmankan Allah dalam surat An Nisa ayat 36, yang artinya: “Dan sembahlah Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” Dan dalam firrnan-Nya yang lain di surat Al Isra ayat 23 disebutkan: “Dan Tuhanmu telah menetapkan, janganlah kalian rnenyembah kecuali kepada-Nya, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” Allah SWT Maha tahu dengan kedudukan serta peran orang tua. Karenanya, sikap bakti dan berbuat baik pada kedua orang tua adalah kewajiban yang paling utama dan perintah yang paling mendekatkan diri kepada-Nya. Dan karenanya juga, Allah SWT sangat menjaga mereka dengan mengancam orang-orang yang durhaka kepada kedua orang tua dengan siksaan yang pedih. Bahkan Allah melarang menyakiti kedua orang tua, meski dengan perkataan “ah..” “Maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS’. Al Isra:24)

Rasulullah SAW bahkan bersabda, “Maukah kalian aku sampaikan dosa yang paling besar?” Rasul SAW kemudian mengatakan, “Menyekutukan Allah, durhaka pada kedua orang tua.” Semula Rasul bersandar, lalu duduk tanpa sandaran dan mengatakan, “Hati-hatilah kalian pada perkataan dusta dan persaksian dusta.” Rasululah terus mengulang-ulang kalimat itu sampai para sahabat mengatakan dalam hati mereka, “semoga dia diam.” (Muttafaq alaih)

Saudaraku,
Ada tiga kelompok manusia, menurut Rasulullah SAW, yang tidak akan dipandang oleh Allah SWT  di han kiamat, salah satunya adalah orang yang durhaka kepada orang tuanya. Bersyukurlah kepada Allah SWT bila kita masih dikaruniai kesempatan untuk bertemu mereka dalam hidup saat ini. Berterima kasihlah kepada Allah SWT andai kita hari ini masih bisa berbakti secara lahir kepada keduanya, atau salah satu dari mereka. Karena itu berarti, Allah SWT masih memberi kesempatan kita untuk meraih surgaNya. “Merugilah, merugilah, merugilah. Barangsiapa yang bisa menjumpai kedua orang tuanya di saat tua atau salah satu dari mereka, tapi dia tidak masuk surga.” Begitu sabda Rasulullah SAW.

Apakah kita pernah menyakiti mereka saudaraku?

Cobalah berpikir dan merenungkan pertanyaan ini. Dan kaitkan korelasinya dengan perjalanan hidup kita sekarang. Karena Rasulullah SAW pernah bersabda, “Setiap dosa diakhirkan oleh Allah hukumannya hingga waktu yang dikehendaki-Nya. Kecuali dosa durhaka kepada kedua orang tua. Sungguh Allah akan mempercepat hukuman bagi pelakunya saat hidup di dunia, sebelum mati.” (HR. Hakim) “Dua pintu yang didahulukan hukumannya di dunia, yakni pelacuran dan mendurhakai orang tua. ” Ada sebuah kisah disampaikan Al Ashma’i rahimahullah:, “Seseorang mengatakan kepadaku, “Aku mengelilingi kampung dan mencari orang yang paling durhaka kepada kedua orang tuanya. Aku menemui seorang tua, di lehernya ada seutas tali untuk mengangkat ember yang berat dan bahkan sulit diangkat oleh seekor unta. Padahal itu di waktu siang terik. Sementara di belakangnya seorang pemuda memukulnya sangat keras hingga menyakitinya, dan punggungnya luka karena tali. Aku katakan, “Hai pemuda, apakah engkau tidak takut kepadaAllah memperlakukan orang tua yang lemah seperti ini?” Pemuda itu menjawab, “Orang ini  adalah ayahku.” Aku katakan lagi, “Semoga Allah membalaskan kebaikan untukmu wahai orang tua.” Tapi ia menolak ucapan itu dan mengatakan, “Demikianlah dahulu aku memperlakukan orang tuaku. Dan demikian pula orang tuaku memperlakukan kakekku…”

Tapi saudaraku

Kebalikannya kesalihan dan kebaktian kita kepada orang tua, juga merupakan amal shalih yang balasannya bisa dipercepat di dunia. Membuat bahagia orang tua, turut menciptakan kebahagiaan orang tua, akan mendapat balasan pahala yang bisa kita rasakan langsung sejak saat kita hidup. Banyak bukti menunjukkan bahwa berbuat baik kepada orang tua mendatangkan pertolongan Allah. Dalam sebuah hadits, Rasulullah berkisah bahwa dulu ada tiga orang pemuda yang terjebak dalam gua, yang pintunya tertutup oleh bongkahan batu besar. Untungnya ketiga pemuda tersebut memiliki kebaikan di
masa lalu. Salah satunya adalah kebaikan berupa keikhlasan berbuat baik kepada orang tuanya. Sewaktu orang tuanya masih ada, pemuda itu selalu rnenyempatkan diri untuk memeras susu dan memberikan kepada kedua orang tuanya. Namun suatu ketika ia kecewa. Karena terlambat pulang, ia mendapati kedua orang tuanya sudah tertidur. Namun ia tetap setia memegang gelas susu sembari menunggu kedua orang tuanya terbangun di pagi harinya. Begitu baiknya pemuda itu kepada orang tuanya. Sehingga ketika terjebak di gua itu, ia berdoa kepada Allah dengan menyebut kebaikannya itu. Di akhirnya, doanya ia mengucapkan, “Ya, Allah, kalau memang itu (menyantuni orang tua) adalah kebaikan, bukalah pintu gua ini”Bergeserlah batu penutup gua itu.

Saudaraku,
Bertanyalah kepada diri sendiri, “Apa kabar ibuku?Apa kabar bapakku? Di manakah keduanya sekarang berada di bulan suci ini ?” Apapun jawabannya, kita pasti tahu amal apa yang harus kita lakukan untuk mereka pada kesempatan mulia ini. Pintalah, dengan kesungguhan hati kepadaAllah untuk mereka…

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: