jump to navigation

Hari Keduapuluh

Bermalamlah Di Masjid Saudaraku

Saudaraku,

Kita sampal di hari ke 20 bulan Ramadhan. Sadarilah, bahwa hari demi hari bergulir dan detik demi detiknya semakin mahal dan tak ternilai harganya. Kitapun sampai pada tahap mencapai harapan yang semakin tidak mudah. Tapi di sinilah sesungguhnya proses seleksi itu dimulai. Itu sebabnya, Rasulullah SAW menurut Aisyah ra, “lebih bersung¬guh-sungguh beribadah pada sepuluh hari terakhir, melebihi kesungguhan sebelumnya.” Mari kita sambut dan jelang sepuluh han terakhir bulan ampunan ini.

Saudaraku,

Kini saatnya kita meningkatkan kesungguhan dan keseriusan beribadah. Kini saatnya kita benar-benar menapaki hidup dunia dengan nuansa akhirat. Sekarang waktunya kita berubah dan manusia bumi menjadi manusia langit. Hari-hari sepuluh terakhir adalah kesempatan khusus yang sangat istirnewa untuk mendapatkan ridha Allah. Tidakkah kita ingin menyerupai apa yang dilakukan oleh orang-orang shalib di saat-saat seperti ini ? Tidakkah kita mendengar bagaimana kondisi para sahabat radhiallahu anhurn sebagaimana diriwayatkan Ali ra, “Adalah para sahabat di pagi hari, rambut mereka kusut, masai, dan berdebu. Di antara mereka ada bekas seperti orang yang berduka. Mereka telah sujud dan shalat malam, bergantian antara kening mereka dan kaki mereka, beribadah kepada

Allah. Mereka berdiri condong seperti layaknya pohon yang miring karena telah banyak berbuah. Mata mereka menangis hingga membasahi pakaiannya…” Inilah Hasan Al Bashari yang mengatakan, “Aku melihat sekelompok orang yang nyanis sama sekali tidak bahagia dengan sesuatu yang mereka peroleh di dunia, dan tidak merasa sayang dengan apa yang mereka tinggalkan di dunia. Jika datang waktu malam, mereka berdiri melakukan shalat di atas kaki mereka, wajah mereka diairi air mata yang mengalir di pipi, memanjatkan do’a dari pengampunan kepada Tuhan mereka. Apabila mereka melakukan kebaikan, merekatidak mensyukuni amal yang mereka lakukan, tetapi meminta kepada Allah agar menenima amal mereka. Dan apabila mereka melakukan keburukan, mereka segera memohon agar Allah mengampuni dosa mereka.”

Maha suci Allah, Yang telab rnemilih kaki-kaki hamba-Nya untuk beribadah kepada-Nya. Maha suci Allah, Yang telah menyibukkan hati orang-orang shalih untuk men¬cintai-Nya. Dosa dosa mereka terampuni dan mereka men¬capai keinginan yang mereka mau. Mereka iringi usaha mencapai keinginan itu dengan berpuasa, shalat dan bermunajat. Saat banyak manusia tertidur di saat itulah mereka mengangkat hajat demi hajat me~eka.

Saudaraku,

Hari-hari kita yang sangat mahal, akan terus benjalan.

Berusahalah untuk tidak ada jenak waktu yang luput dari sernua kebaikan dan amal shalih. Utamakanlah beribadah di malam-malamnya. Sungguh pada malam-malam ini, Allah SWTi bertanya, “Adakah orang yang meminta kepada¬Ku…?”

Bermalamlah di masjid saudaraku,

Dalam hadits shahih yang diriwayatkan Aisyah ra, jika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah SAW mengencangkan ikatan sarungnya, menghidupkan malam-malamnya dan membangunkan keluarganya. Dalam riwayat Muslim disebutkan, “Adalah Rasulullah saat memasuki sepuluh hari terakhir, lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah, melebihi hari-hari lainnya.”

Menghidupkan malam dengan shalat, membaca Al Quran dan berbagai amal ibadah, pada waktu-waktu seperti ini adalah sunnah Rasulullah SAW yang diikuti oleh orang-orarig shalih. Di antara malam-malam di sepuluh hari terakhir ini, ada jenak malam yang hitungan nilainya jauh berlipat ketimbang jatah hidup kita di dunia. Malam lailatu al qadar, malam yang lebih baik dan seribu bulan.

Saudaraku,

Bermunajatlah dengan penuh tunduk, dari ketidakber¬dayaan di hadapan Allah SWT Yang Maha Rahman, Yang Maha Rahim. Bersyukurlah kepada Allah, jika hari ini kita masih diberikan jatah hidup dan kondisi yang sehat. Karena sungguh esok kita akan berada dalam liang kubur, dajam gelap, dalarn kepungan cacing yang tak mungkin dielakkan. Mudah-rnudahan ada satu raka’at kita di malarn-malain sepuluh han terakhir ini, yang bisa mendatangkan rahmat Allah SWT kepada kita di saat itu. Semoga ada tasbih, talimid dan zakbir yang bisa memberi keringanan kepada kita pada saat itu. Berharaplah agar ada ruku’ dan sujud yang bisa melapangkan kesempitan kita di saat itu.

Saudaraku,

Rasulullah SAW melakukan itikaf di masjid sepanjang sepuluh hari terakhir. Itulah tradisi ibadah yang dilakukan¬nya sampai ajal menjemputnya “Adalah Rasuluhlah SAW beritikaf di masjid pada setiap sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Dan pada tahun wafatnya, Rasuluhlah SAW melakkan itikaf di masjid selania 20 hari.” (HR. Bukhari,). Itikaf yang artinya tinggal di masjid dengan niat tertentu merupakan sunnah yang selalu dilakukan Rasuluhlah ~. Jika kita yang ingin secara sempurna itikaf di sepuluh hari terakliir Ramadhan, hendaknya mulai masuk masjid sebelum terbenamnya matahari pada malam ke dua puluh bulan Ramadhan, sehingga tak ada satu malampun yang luput dari sepuluh hari terakhir. Itikafakan berakhir setelah terbe¬namnya mata hari di malam hari Idul Fithri. Inilah pendapat yang disepakati keempat Imam madzhab.

Saudaraku,

Seorang mu’takif (yang melakukan itikaf), berupaya menyibukkan diri saat itikaf dengan memperbanyak melaku¬kan ibadah sunnah. Shalat dhuha, shalat sunnah rawatib, shalat sunnah wudhu. Membaca Al-Quran. bertasbih, takbir, istighfar, shalawat kepada Rasulullah ~, membaca buku mendalami Islam dan sebagainya. Mu ‘takf bisa batal bila keluar dari masjid tanpa keperluan mendesak. Karena asalnya itikaf adalah mulazamah masjid atau tetap diam di dalam masjid untuk beribadah.

Saudaraku,

Gunakanlah kesempatan ini sebaik-baiknya untuk rnenghadapi penjalanan panjang yang menentukan berhasil atau gagalnya hidup sesungguhnya di akhirat. Berdo’alah dengan penuh kesungguhan agar Allah melimpahkan pertolongan-Nya kepada kaum Muslimin di mana saja untuk bersabar dan bisa terbebas dari ragam tekanan dan serangan musuh-musuh Islam.

YaAllah,jadikanlah seluruh amal kami adalah amal shalih dan khusus dipersembahkan untuk mencari ridha-Mu.••

%d blogger menyukai ini: