jump to navigation

Hari Kedelapanbelas

YANG TAK MUNGKIN DILAKUKAN ORANG MUNAFIK

Ini cuplikan kisah sebagian orang shalih yang sangat menyembunyikan amal-amal mereka. Perhatikanlah perkataan Amran bin Khalid rahimahullah, “Aku mendengar Muhammad bin Wasi’ mengatakan, “Ada seorang yang kerap menangis selama dua puluh tahun, tapi tangisannya tak pernah diketahui isterinya.” Mirip dengan apa yang dikatakan Amran bin Khalid, Yusuf bin Athiyah rahimahullah juga menyampaikan dari Muhammad bin Wasi’, “Aku mengenal seorang yang kepalanya ada di atas satu bantal bersama isterinya, dan pipinya basah karena air matanya, namun isterinya tidak mengetahui tangisannya. Aku juga mengenal seorang yang berdiri di salah satu shaf shalat lalu air matanya menetes di pipinya, namun orang yang berdiri di sisinya tidak mengetahui hal itu.”

Berusaha menyembunyikan amal shalih, itu salah satu sikap yang menjadi karakter mereka. Bukan hanya sekedar melakukan amal shalih secara tersembunyi, tapi mereka berusaha agar amal mereka tidak diketahui orang lain. Berbagai kisah tentang akhlak itu mengalir dalam sejumlah catatan hidup mereka. Abu Sirrin rahimahullah, disebutkan tertawa di waktu siang. Namun ketika datang waktu malam ia beribadah seperti membunuh penduduk desa karena sepinya. Ibnu Mubarak rahimahullah juga mengatakan, “Aku tak melihat seorang yang lebih tinggi seperti Imam Malik. Ia melakukan banyak shalat dan banyak puasa, tapi ia sangat merahasiakan amal-amalnya.”

Saudaraku,

Mari menyepi bersama Allah. Menyembunyikan amal shalih dari pengetahuan onang lain. Beribadah dengan sembunyi-sembunyi dan menyembunyikan ibadah. Sampai tak ada yang mengetahui apa yang kita lakukan kecuali diri kita sendiri dan Allah SWT. Jangan peduli dengan pandangan orang lain. Tanpa peduli ganjaran dan balasan dari manusia sedikitpun.

Inilah bentuk ibadah yang selamanya tak mungkin dilakukan orang-onang munafiq. Tak pemah bisa dilakukan oleh orang-orang pendusta. Karena kedua kelompok orang tersebut, yang munafiq dan pendusta, akan selalu melandasi amal baiknya karena penglihatan dan penilaian orang lain kepada dirinya. Sementara menyembunyikan ibadah dan tidak mengandalkan penglihatan orang lain dalam beramal shalih, hanya dilakukan oleh orang-orang shalih saja.

Benar saudaraku,

Amal ibadah secara rahasia hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tulus, jujur, shadiq dalam keimanannya. Karena ketika itulah, seseorang mendapatkan ruang kesendiriannya bersama Allah SWT. Padahal amal kebaikan yang disembunyikan selain memicu ketidakrelaan syaitan yang ingin mendorong seseorang untuk melakukan amal-amal shalih secara terang terangan. Amal ibadah yang dilakukan secara rahasia, adalah amal yang paling berat bagi syaitan. Karena itu merupakan amal yang paling jauh dari pengaruh riya, ujub dan ketenaran sebagai senjata syaitan untuk menghilangkan nilai sebuah amal.

Saudaraku,

Ternyata, akhlak menyembunyikan amal shalih itu memang diajarkan oleh Rasulullah SAW. . Dengarkanlah Rasulullah SAW pernah bersabda, “Manis tatho ‘a minkum an yakuuna lahu khab ‘un min amal shalih fal yaf’al.” Barang siapa di antara kalian yang bisa menyembunyikan amal shalih, maka lakukanlah.”

Dan Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Rabb kami kagum dengan dua orang. Seorang yang bangun dari tempat tidurnya dan tempat duduknya, di antara keluarga dan cintanya, untuk melakukan shalatnya. Lalu Allah SWT berfirman, “Wahai Malaikat-Ku, lihatlah kepada hamba-Ku yang lebih meninggalkan kasurnya dan tempat duduknya di antara kecintaannya dan keluarganya untuk melakukan shalat, demi mengharapkan apa yang Aku miliki, dan demi kerinduannya terhadap apa yang Kumiliki. Dan seorang yang berperang di jalan Allah lalu ia dan para sahabatnya mengalami kekalahan. Ia tahu kekalahan yang menimpanya, tapi ia tidak mau mundur kembali sampai terkucur darahnya. Lalu Allah SWT berfirman kepada Malaikat-Nya, “Lihatlah kepada hamba-Ku. Ia kembali untuk mengharapkan apa yang Aku miliki dan demi merindukan apa yang Aku miliki, sampai terkucur darahnya.”

Para ulama dan orang-orang shalih juga menganjurkan amal shalih dilakukan dengan sembunyi. Seperti nasihat Zubair bin Awwam ra, “Jadikanlah kalian memiliki amal shalih yang tersembunyi sebagaimana kalian cenderung menyembunyikan perbuatan buruk kalian.”

Saudaraku,

Zubair dalam nasihatnya, mengingatkan kita akan sesuatu yang kita lalaikan. Bahwa setiap kita pasri memiliki keburukan yang ingin tidak diketahui orang lain. Maka, kecenderungan menutupi keburukan itu hendaknya juga kita lakukan untuk amal-amal baik. Berkata Sufyan bin Uyainah., berkataAbu Hazim, “Sembunyikanlah kebaikan-mu lebih tersembunyi dari pada kalian menyembunyikan keburukan-keburukanmu.” Berkata Ayub As Sakhtiyani, “Seseorang yang menyembunyikan kezuhudannya, itu lebih baik daripada menampilkannya di hadapan orang lain.”

Suatu ketika Muhammad bin Ziyad melihat Abu Umamah datang kepada seseorang di masjid dalam kondisi sujud dan menangis dan berdoa kepada Tuhannya. Ia lalu mengatakan, “Kamu… kamu .. sangat baik sekali andai kamu melakukan hal ini di rumahmu.”

Saudaraku yang dicintai Allah,

Menyembunyikan amal shalih adalah akhlak orang-orang shalih. Tapi tidak berarti amal-amal shalih seluruhnya harus dilakukan secara tersembunyi. Ada banyak amal shalih yang tidak mungkin dilakukan kecuali secara terang-terangan. Ada banyak kesempatan melakukan ketaatan yang justru harus dilakukan di hadapan banyak orang. Maka, yang terpenting adalah bagaimana kita menyeimbangkan antara kebaikan kala sendiri dan kebaikan kala bersama orang lain. Keseimbangan inilah yang menjadi cermin keikhlasan. Dan bobot keikhlasan inilah yang kelak menjadi penentu nilai amal yang kita lakukan…

Mari saudaraku, malam ini kita menyendiri bersama Allah…

%d blogger menyukai ini: