jump to navigation

Hari Kedelapan

Katakanlah, Lisan Kita, Antara Surga dan Neraka

Saudaraku,

Allah Swt berfirman: “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir”: (QS. Qaaf:18)

Ingatkah kita dengan ayat ini? Pernahkah kita berfikir dengan hati dan jiwa tentang isinya? Melalui ayat ini, Allah swt menyampaikan bahwa semua perkataan, baik maupun buruk, akan selalu di pantau, dan dicatat oleh Malaikat. Tak ada perkataan, yang baik maupun yang buruk, pasti akan senantiasa terekam dan akan di putar rekamannya dihadapan Allah Swt. Kelak, kita yang lemah ini akan berhadapan dengan Allah Swt tanpa ada batas dan tanpa penerjemah. Lalu, kitapun di tanya, mengapa kita mengatakan ini dan itu ?

Saudaraku,

Menggerakkan lidah untuk mengucap sesuatu, boleh jadi merupakan pekerjaan ringan saja. Tapi keringanan itu sebenarnya bias menjadi tolok ukur keimanan seseorang. Itulah yang dikatakan rasulullah dalam haditsnya “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia mengatakan yang baik atau diam.” Bahkan coba perhatikan bagaimana jawaban Rasulullah tatkala Muad bin Jabal bertanya tentang amal yang bisa memasukkan ke surga atau menjauhkannya. Rasul menjawab, dan di penghujung haditsnya menerangkan, “Tidakkah engkau mau aku beritahu dengan sesuatu yang sangat menentukan dengan itu semua?” Rasul lalu memegang lisannya dan mengatakan, “Peliharalah ini.” Muadz kemudian mengatakan, “ Ya Rasulullah, apakah kita akan dihukum dengan apa yang kita katakana?” Ia menjawab, “Wahai Muadz, apakah akan terjerumus ke neraka di hadapan mereka, kecuali karena apa yang diucapkan lisannya.” (HR. Turmudzi)

Dalam sebuah atsar disebutkan, “Bila seorang bani Adam memasuki pagi hari, maka seluruh anggota tubuhnya mengingkari lisannya dengan mengatakan, “bertawakallah kepada Allah terkait dengan kami, karena kami tergantung kamu. Bila kamu lurus, kamipun akan lurus dan bila kamu bengkok, maka kami pun akan bengkok.”

Ungkapan itu memberitakan bahwa seluruh anggota tubuh kita akan menghina lisan dan merendahkannya. Itu karena kondisi seseorang memang banyak tergantung dengan kondisi lisan seseorang. Itu pula sebabnya, lidah meskipun ia merupakan anggota tubuh yang kecil tapi bias menjadi penyebab kita masuk surge bersama para Nabi, para Shiddiqin, para Syuhada dan Shalihin. Merekalah sebaik-baik teman di akhirat.

Saudaraku yang berpuasa,

Ingatlah bahwa perkataan kita akan tercatat dan mendapatkan perhitungannya. Jadikan semua ucapan kita ada dalam konteks kebaikan, amar ma’ruf dan nahyul mungkar serta dzikir kepada Allah Swt. Inilah yang diajarkan kekasih Muhammad Saw. Allah berfirman,

Tak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) member shadaqoh, atau berbuat ma’ruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia” (QS. An Nisa:114)

Saudaraku,

Perkataan yang kita ucapkan untuk menolong agama Allah, akan bias mendatangkan pertolongan Allah dan mengangkat pelakunya ke derajat yang mulia di sisi Allah Swt. Tapi lidah juga bisa menyebabkan kita terperosok ke neraka, bahkan ke kerak neraka yang paling bawah. Karena satu kalimat yang di keluarkan oleh lisan, yang mungkin tidak kita anggap sebagai urusan serius, tapi ternyata itu begitu besar kesalahannya di sisi Allah Swt.

Rasulullah bersabda, “Sungguh seorang hamba mengeluarkan satu perkataan yang di ridhai Allah, yang begitu sepele, tapi dengan perkataan itu ia akan diangkat oleh Allah Swt beberapa derajat. Dan seorang hamba mengeluarkan suatu perkataan yang dimurkai Allah, yang begitu sepele, tapi dengan perkataan itu ia akan dijebloskan ke dalam neraka jahannam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tingkatkanlah kehati-hatian kita di bulan ini saudaraku,

Perkataan kita yang di keluarkan, meski terkesan sepele dan tidak penting, tapi itu bias sangat berarti bagi akhir kehidupan kita di akhirat. Bahkan, ada sesuatu yang tidak kita ucapkan, melainkan hanya kita nikmati untuk mendengarkan, itupun bias memiliki pengaruh besar dengan kedudukan kita di sisi Allah. Rasul bersabda, Sesungguhnya, engkau seperti mereka…”

Rasul juga bercerita saat beliau di Isra-kan oleh Allah Swt, “Tatkala aku di isra kan oelh Allah, aku melewati sekelompok orang yang memiliki kuku tercipta dari tembaga dan mencakari wajah serta tubuh mereka sendiri. Aku bertanya: “Ya Jibril, siapakah mereka?” Jibril mengatakan: “Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia (berghibah) dan mencederai kehormatan mereka.”

Ada banyak bentuk siksa Allah yang dijatuhkan akibat lisah. Karena itulah kita mendapati para salafushalih memiliki sikap yang menakjubkan terhadap lisan mereka. Slah seorang mereka, yakni Ibnu Abbas berbicara pada dirinya sendiri. Ia memegang lidahnya, setelah itu ia lepaskan kembali dan mengatakan, “Celakalah kamu, katakanlah yang baik atau kamu diam dari keburukan, pasti kamu selamat. Saya mendengar bahwa seorang hamba di hari kiamat tidak mendapatkan sesuatu yang lebih memberatkan daripada lidahnya.”

Sadar betapa sulitnya menjaga lidah, para salafushalih mencari cara untuk bias mengekang lisan mereka dari perkataan yang mendatangkan kemurkaan Allah. Adalah Abdullah bin Wahb mengatakan,”Aku bernadzar, setiap kali aku menghibahi seseorang, aku harus berpuasa satu hari. Sampai aku merasa berat melakukan puasa, karena setiap aku melakukan ghibah aku berpuasa. Kemudian aku berniat setiap kali melakukan ghibah aku bershadaqoh satu dirham. Akhirnya karena saya begitu menyukai dirham aku tinggalkan ghibah.”

Merka juga berdiskusi untuk bias mengendalikan lisan. Disampaikan kepada kami bahwa Qis bin Sadan dan Aktsam bin Shaighi berkumpul. Slah satu dari keduanya mengatakan, “Berapa banyak engkau menghitung aib-aib manusia?” Dijawab,”Lebih banyak dari apa yang bisa dihitung, tapi aku menghitungnya sejumlah delapan ribu aib. Dan aku mendapatkan satu sikap bila aku menggunakannya, niscaya aib-aib itu akan bisa tertutupi semuanya.” “Apa sikap itu?” Tanya salah seorang dari mereka. Temannya menjawab, Memelihara lisan. Lisan seringkali menjerumuskan orang menyekutukan Allah, lisan bisa seringkali menumpahkan darah, lisan bisa sering menjadikan orang terzalimi, lisan bisa sering menceraikan istri dan menghancurkan rumah tangga, lisan bisa sering membuang-buang harta, lisan bisa sering menista kesucian seseorang.”

Saudaraku,

Bagaimana seseorang bisa melakukan puasa dengan baik, sementara dia melepaskan jiwa dan lisannya begitu saja? Bagaimanakah seseorang dapat dengan baik melakukan puasa, sementara dia berdusta, berghibah, mengungkapkan perkataan kotor, mencaci, dan melupakan hari perhitungan? Bagaimanakah seseorang bisa menjalani puasanya sejalan dengan kehendak Allah, bila ia bersaksi dusta dan tidak melindungi kaum Muslimin dari keburukan dan kejahatan.

Ya Allah, peliharalah lisan kami dari dusta

Ya Allah, peliharalah mata kami dari khianat

Ya Allah peliharalah amal-amal kami dari riya

Maha Suci Engkau ya Allah

Segala puji bagi Engkau

Aku bersaksi tidak ada Tuhan kecualai Engkau

Aku memohon ampunan kepada-Mu

Aku bertaubat kepada-Mu

Shalawat dan Salam atas Nabi Muhammad beserta keluarganya dan para sahabatnya.

%d blogger menyukai ini: