jump to navigation

Modal Sukses Senin, Agustus 4, 2008

Posted by kanghasan in Motivasi.
Tags: , , , , ,
trackback

Melanjutkan postingan mengenai sukses dari persfektif ‘4 ta’ yang lalu, muncul pertanyaan mengenai bagaimana cara untuk meraih sukses. Di guskun.com diuraikan 5 habits menuju sukses. Kebiasaan-kebiasaan yang dipraktekkan dengan dilandasi kesungguhan dan niat baik pada akhirnya menjadi kebisaan (expert). Seperti kata pepatah banyak jalan menuju roma, demikian halnya jalan menuju sukses pun terhampar luas dan lebar. Tetapi hanya bahwa jalan itu sudah tersedia, pilihannya adalah keputusan pribadi. Sungguhpun demikian, setiap orang bisa jadi akan memberikan definisi yang unik mengenai sukses terhadap dirinya. Hal ini terkait dengan keberanian seseorang membuat tolok ukur dan sejauh mana ia menyadari kualitas dan kapabilitas personalnya.

Pada dasarnya, rumusan sukses itu hampir menyerupai hukum matematika yang niscaya sifatnya. Seperti 2×2=4, maka hasil (sukses) itu adalah hasil dari multiplikasi beberapa faktor. Sudah tentu faktor-faktor itu adalah faktor-faktor positif yang anda dapat gali sendiri. Sebab pada hakikatnya faktor-faktor itu sudah built in dengan manusia. Semua manusia diberi kemampuan, diberi modal, disediakan jalan. Mengapa masih terdengan cerita kegagalan, adalah sekedar kombinasi faktor yang tidak tepat. Jadi “don’t worry be happy”, kata sebuah lagu.

Saya tertarik menelusuri faktor-faktor itu sebagaimana disampaikan oleh Jamil Azzaini, karena dia sudah meringkas sedemikian rupa menjadi 3 faktor kunci (istilah kunci ini made in saya). Tentu saja, ini bukan harga mati. Di sinilah letak keterbukaan suatu ‘ilmu’ untuk selalu dikembangkan. Tiga faktor kunci tersebut adalah :1. Asset, 2. Expert, dan 3. Epos.

Asset  

Aset (asset) atau modal adalah bekal utama yang harus didayagunakan untuk meraih sukses. Melalui pendayagunaan aset, potensi pada diri seseorang akan menjadi efektif dan tidak semakin dalam terpendam. Dalam hal ini aset tidak harus berupa modal kekayaan (sebagaimana menghitung sejuta harus selalu berawal dari 0). Apa saja yang telah diberikan Tuhan kepada kita adalah aset. Setiap orang memiliki aset karena Tuhan sudah demikian adil menganugerahkan. Dan kepemilikan aset setiap orang adalah sama. Kita sama-sama memiliki panca indra, sama-sama memiliki otak sebagai pusat produksi ide dan informasi, sama-sama memiliki energi, ruh/spirit, sama-sama bisa merespon dinamika lingkungan, membedakan baik dan buruk. Pendek kata, aset dalam hal ini sudah tertanam, sudah taken for granted. Jadi pertanyaannya adalah pada sejauh mana aset yang kita miliki dapat kita efektifkan dalam pekerjaan, sejauh mana aset didayagunakan untuk mengelola dan memanajemen lingkungan. Apakah kita sudah cukup mengoptimalkan kerja fikiran kita, memanfaatkan ketrampilan yang diberikan Tuhan lewat tangan kita? atau kita menyerah saja. Dengan kemampuan yang kita miliki apakah kita sudah bekerja dengan cukup efektif sehingga menghasilkan prestasi membanggakan?

Tidak mudah untuk mengiyakan pertanyaan itu. Kelemahan terbesar kita adalah masih menganut prinsip seeing is believing. Kita baru percaya setelah melihat. Kita jarang menyadari bahwa prinsip ini menjerumuskan kita kepada sikap yang lebih mencari aman daripada bersiap menanggung resiko. Kita lebih suka memupuk solidaritas semu daripada secara tegas menyatakan sikap sehingga kita cenderung bertindak melalui apa yang orang lain lakukan, mengapa saya tidak, saya juga bisa. Pribadi yang sukses tidak menilai pekerjaan orang lain, bukan berarti apa yang dilakukan orang lain itu tidak penting, tetapi yang terpenting adalah apa yang saya kerjakan. Karena jelas bahwa tujuan hidup saya, sepenuhnya berada di bawah kendali kesadaran saya.

Sekarang mari kita hitung lagi berapa besar aset yang kita miliki. Efektifkan aset-aset potensial, efisienkan pendayagunaan aset hanya untuk membuat jalan menuju cita-cita (sebaiknya kita tahu kalau kita tahu, kata pepatah).

Pendayagunaan aset memerlukan faktor nomor 2 :

Expert

Telah disinggung pada awal tulisan ini bahwa kebiasaan (habits dalam istilah guskun) akan berubah dan berbuah menjadi kebisaan. Inilah expert, keahlian. Dengan semua aset yang kita miliki, tidak ada kata gagal sebenarnya. Syaratnya, kita punya expert. Keahlian dalam mendayagunakan dan mengefektifkan aset dan potensi aset. Sudah banyak cerita orang yang memiliki banyak uang bisa jatuh miskin dalam waktu singkat. Juga banyak contoh orang yang memiliki aset (jaringan dan kepercayaan) menjadi pecundang dalam waktu tidak lama. Semua terjadi (terutama) karena aset yang dimiliki tidak didukung oleh expert, oleh keahlian, oleh profesionalitas.

Profesionalisme dibutuhkan pada setiap jenis pekerjaan. Hasil pekerjaan berkorelasi positif dengan profesionalisme. Hasil kerja yang baik (utama) adalah berkat sentuhan pekerja yang profesional, yaitu pekerja yang bekerja dengan mengerahkan segenap asetnya dan didukung oleh kemampuan teknis yang memadai.

Dari mana kemampuan teknis itu di dapatkan? dari teori, dari pengalaman, dari pelatihan, dan dari insting kerja yang terlatih dengan baik. Teori saja sering tidak cukup untuk menyelesaikan pekerjaan dengan hasil memuaskan, kita perlu sentuhan pengalaman. Akan tetapi pengalaman pun bisa kadaluwarsa karena jaman berubah, maka kita perlu penyegaran teknik baru, kita perlu pelatihan untuk merecharge informasi dengan informasi terkini. Ketiganya, yang dibiasakan, akan mengasah intuisi kita sehingga secara a priori kita sudah bisa membuat konsep penyelesaian. Kita sudah proaktif menyongsong setiap pekerjaan yang kita hadapi. Kita menjadi karyawan yang expert, entah dalam posisi memimpin atau dipimpin. Pemimpin yang expert tentu memiliki nilai lebih di mata anak buah bukan karena jabatan dan kuasanya, melainkan karena kualitas pribadinya. Karyawan yang expert tentu akan lebih ‘didengarkan’ pendapatnya daripada yang biasa-biasa saja.

Sebagaimana disinggung di atas, expert tidak didapatkan begitu saja. Anda boleh berbangga dengan predikat lulusan S2 luar negeri, tetapi di lapangan belum tentu teori anda berlaku. Satu tahapan yang tidak boleh ditinggalkan adalah penghayatan pada pekerjaan. Teori ilmiah tidak akan dipakai sebelum diujicobakan di laboratorium. Sebelum menjadi pemimpin, anda harus merasakan dulu bagaimana dipimpin, harus bisa dipimpin terlebih dahulu. Anda harus memiliki pengalaman yang cukup untuk bisa tampil prima dengan teori-teori yang dipelajari di bangku kuliah. Pengalaman, itulah guru yang terbaik.

Apakah pengalaman berarti ‘satu tahapan waktu dan tempat yang pernah dilewati sebelumnya?’ sama sekali bukan itu yang dimaksudkan di sini. Waktu dan tempat bisa saja menjadi bagian integral dari pengalaman, tetapi tidaklah cukup untuk menjadikannya sebagai guru (yang baik). Yang terpenting adalah isi dari pengalaman itu. Isi atau muatan pengalaman terbentuk tidak hanya melalui tahapan waktu dan tempat an sich, tetapi proses. Anda ‘berproses’ atau diam saja selama itu, ada atau tidak interaksi antara kualitas dan kapabiitas teoritis anda dengan pekerjaan? atau jangan-jangan anda hanya menjadi menara gading yang tidak tersentuh keseharian persoalan kerja. Apakah sudah ada upaya yang cukup untuk mengimplementasikan pengetahuan anda kepada persoalan/pekerjaan, menginseminasikannya kepada lingkungan, dan kemudian menarik pelajaran dari sana? Barangkali anda bisa bangga dengan jabatan/pekerjaan yang disandang dan menilai diri sukses, tetapi sesungguhnya itu adalah kebangaan semu. Karena tidak terlihat pengaruh yang signifikan dari kualitas pribadi anda. Jadi, untuk menjadi seorang yang expert kita perlu ilmu (teori), pengalaman, dan pelatihan.

Epos

Epos, bukan ephos, ini adalah rekayasa kata dari kata energi dan kata positif. Epos artinya energi positif. Energi positif adalah energi yang bersifat menguatkan (afirmatif). Energi itu sendiri bermakna sebagai ‘bahan bakar’ bagi terolahnya aset dan beroperasinya expert secara optimal. Pribadi yang mengeluarkan energi positif akan menciptakan lingkungan kerja yang positif juga. Energi positif didapatkan dari fikiran dan tindakan positif pada saat yang bersamaan ia juga mengeluarkan fikiran dan tindakan yang setara.

Hukum kekekalan energi mengatakan bahwa energi yang terpakai sama dengan energi yang dihasilkan. Kita memanaskan air dengan suhu seratus derajat celcius, akan mendapatkan air mendidih, panas, dan uap air. Demikian halnya dengan energi positif yang kita keluarkan untuk mendayagunakan aset dan mengefektifkan keahlian.

Tanpa dilandasi fikiran positif, tindakan kita akan menjadi destruktif. Tindakan positif hanya terlahir dari ide-ide positif. Sudah jelas bahwa ‘bolos‘ kerja pasti dilandasi keinginan-keinginan tertentu yang tidak dibenarkan peraturan. Demikian halnya KKN, tidak satupun yang bersih dari egoisme pribadi/kelompok dan pada gilirannya menghancurkan kesempatan orang/kelompok lain, menumbangkan komitmen terhadap pekerjaan. Tetapi fikiran dan tindakan positif dalam bekerja akan mengukuhkan komitmen dan menciptakan suasana kerja yang nyaman dan tenteram. Karena semua telah dilakukan berdasarkan aturan main dan dikerjakan dengan profesional.

Perilaku positif itulah yang akan menjadi energi untuk ‘membakar’ lingkungan. Kita bekerja dengan rajin dan profesional akan menghasilkan pencapaian yang sesuai. Kita akan merasa puas, merasa lega bisa menyelesaikan pekerjaan yang diamanatkan. Percayalah bahwa lingkungan akan merespon dengan hal yang sama.

Aset dan expert yang kita kuasai akan hancur (perlahan atau seketika) apabila tindak dan perilaku tidak sejalan dengan nilai-nilai etika yang kita percaya. Akan tetapi banyak hambatan seseorang bisa untuk bisa mengeluarkan dan menyalurkan energi positifnya di situasi dan lingkungan kerja tertentu. Di sinilah tantangannya, komitmen sukses dipertanyakan kembali, sukses didefinisi ulang, dan tujuan hidup haru dievaluasi kembali.

Last but not lesat, kalau boleh disimpulkan, mencapai sukses adalah memultiplikasi dari Aset X Expert X Epos, dalam sebuah usaha sungguh-sungguh yang terus menerus yang dilandasi rasa percaya, Tuhan tidak akan salah memilih orang yang telah berusaha.

Wallahu a’lam bissawab…

*Trijaya FM Bdg, Kantor-Kontrakan, 31 Juli 2008

 

 

Komentar»

1. fatamedia - Jumat, September 12, 2008

Setuju. Pada remaja -bahkan juga yg dewasa, modal sukses juga dipengaruhi oleh positif atau negatifnya konsep diri yang dimiliki. Pembahasan konsep diri untuk meraih sukses bisa ditemukan di buku Change to be Super. Silakan menyimak.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: