jump to navigation

Where to Go…? Rabu, Juli 9, 2008

Posted by kanghasan in Renungan.
Tags: , , , , ,
trackback

homoerectus Sebagai manusia tentu kita semua terlibat dengan persoalan etis mengenai untuk apa dan kemana hidup kita akan berjalan. Istilahnya adalah sangkan paraning dumadi, yaitu mengerti hakikat hidup dengan menyadari sepenuhnya kemana (kelak) hidup hendak bermuara. Persoalan ini sepele namun amat substansial. Sepele karena kita mungkin tidak pernah benar-benar menempatkannya dalam daftar prioritas perhatian kita di tengah deru kesibukan yang menyita waktu dan konsentrasi. Namun substansial karena sebenarnya rumusan kebahagiaan, sukses, cita-cita, dan segala macam tindak kita sekarang tergantung kepadanya. Kesadaran akan visi hari esok itu yang menjadi landasan hidup kita hari ini. Untuk melalui semua itu, menyadari dari mana asal dan ke mana bermuara, setiap saat manusia harus bergerak dari satu evaluasi ke evaluasi berikutnya. Berubah dari satu titik ke titik lain dengan rencana dan cita-cita.

Dalam bahasanya R Kasali, hal itu disebut perubahan (change). Bahkan secara agak ekstrim, dia mengatakan “Tidak peduli di manapun posisi anda saat ini, turn arround“. Manusia selalu berubah (bukan berubah-ubah) sebagai respon atas gerak dinamis lingkungan dan situasi yang melingkupinya. Namun perubahan yang berarti adalah perubahan yang digerakkan oleh kehendak hati dan kesadaran. Ibarat pepatah, hanya ikan yang mati yang terbawa arus. Manusia yang ‘hidup’ akan mengevaluasi arus dan menempatkan diri pada posisi yang benar sejauh persepsi dan keyakinannya.

Dalam bahasa agama kita mengenal istilah hijrah, retreat, dan seterusnya yang dalam bahasa sederhanyanya mungkin bisa disejajarkan dengan proses ‘mengambil jarak’ dengan realitas. Mengapa perlu mengambil jarak? karena dengan hal itu akan memudahkan kita melihat keseluruhan persoalan secara obyektif. Bukankan bumi hanya kelihatan bulat apabila dilihat dari jarak tertentu di langit sana? Dengan kacamata obyektif, setiap persoalan akan terlihat jernih sehingga solusi yang diputuskan akan bersifat menyeluruh dan mendasar.

Pertanyaan klasik : mengapa kita harus berubah? hanya karena lingkungan berubah saja tidak cukup untuk memutuskan kita harus berubah. Hanya karena desakan kepentingan tertentu saja pun perubahan akan mental karena hanya bersifat reaktif. Apalagi hanya karena kita bosan. Satu-satunya jawaban adalah karena tanpa perubahan, jalan menunju sangkan paran itu akan kabur dan menyesatkan.

Tetapi tidak mudah untuk melakukan perubahan. Banyak hal harus ditinggalkan, banyak kepentingan jangka pendek harus disisihkan, serta perhitungan resiko yang bakal terjadi.

Secara instingtif, kita tahu kapan saatnya harus menyingkir dan kapan harus mendekat. Jadi, DNA yang berisi informasi mengenai perubahan sudah built in. Tolok ukurnya sudah ada. Hanya saja, karena manusia harus hidup ‘berbagi’ ruang dengan orang lain, maka orang lain kemudian menjadi salah satu faktor penting. Kalau orang lain tidak berubah, mengapa kita harus? Apalagi kalau orang lain itu adalah sosok yang menjadi tumpuan.

Disadari atau tidak, iklim dan budaya (kerja) telah turut membentuk pola budaya yang memberikan posisi orang lain dalam kesadaran kita sedemikian penting. Alih-alih kita mendesakkan fikiran kita, kita justru menunggunya. Subyektivitas, kita korbankan. Dan kita ‘menyerahkan’ hidup kepadanya, sadar atau tidak. Orang lain yang sejatinya adalah obyek dari masing-masing kita, mendadak menjadi subyek dalam diri kita yang menentukan kehendak kita.

Kemauan mengambil resiko. Sudah menjadi harga mati bahwa perubahan pasti membawa resiko. Biaya finansial serta resiko sosial yang tidak selamanya mengenakkan harus siap ditanggung. Kalau tidak siap menanggung resiko, perubahan tidak mungkin bisa berjalan. Kecuali hanya slogan dan lip service belaka.

Pertanyaan retrospektif yang hendak saya ajukan adalah : dengan posisi kita sekarang sebagai pribadi, komunitas kerja, komunitas lingkungan, dan warga negara (bahkan warga dunia), apakah kita cukup puas dan percaya bahwa jalan ini akan membawa kita menuju sangkan paraning dumadi tadi? atau kita hanya menjadi ikan mati? Wallahua’lam…

 

Komentar»

1. gu5kun - Kamis, Juli 10, 2008

kita pasti akan kembali ke sangkan paraning dumadi, apapun kondisi kita sekarang … ini adalah jalan menuju sangkan paraning dumadi

masalahnya justru pada bagaimana kondisi kita saat mencapai sangkan paraning dumadi ….

muara kehidupan adalah kematian … kita boleh tidur selamanya, dan mati dalam keadaan tidur. Atau kita berjalan selamanya, dan mati dalam keadaan berjalan. Atau, kita jadi pezina aja selamanya, dan mati dalam keadaan zina. Atau, kita ibadah selamanya, dan kita mati dalam keadaan sholeh

Tidak ada pilihan muara, tidak ada pilihan sangkan paraning dumadi, pilihannya adalah tidur, berjalan, zina, ibadah atau yang lainnya …. semua terserah Anda.

http://www.guskun.com
>>KH:Orang2 mulia meninggal dengan wajah tersenyum…<<

2. pingkanrizkiarto - Jumat, Juli 11, 2008

Dari mana kita berasal, mengapa kita ada disini, dan kemana kita setelah mati. Tiga pertanyaan yang harus dijawab dengan iman, dalam satu tarikan pemahaman.

Banyak manusia terjebak pada pertanyaan kedua. Sibuk ‘membuktikan’ diri, berputar2 pada urusan dunia yang seperti nggak akan ada tepinya, padahal garis batas umur itu pasti adanya.

Ya Allah luas rahmat-Mu jauh melebihi murka-Mu
Tapi aku masih saja lupa, khilaf bahkan khianat kepada-Mu

>>KH:Pink, tiga pertanyaan itu akan selalu mencari jawaban (dengan segala cara). Semua orang mencari Tuhan dan merasa sudah menemukan-Nya serta memiliki-Nya (padahal justru kita yang dimiliki-Nya)<<

3. bapakethufail - Senin, Juli 14, 2008

sangkan paraning dumadi ???
yo mung ning gusti kang nduweni jagad iki … kali ya
>>KH: pasti bap…ail. Yg ‘belum’ selesai kan ikhtiarnya<<
never ending trial

4. mbakpipit - Kamis, Juli 17, 2008

Where to go? Mmmmm……. aku barusan baca tulisan: ‘Kemarin adalah sejarah. Besok adalah misteri. Hari ini adalah anugerah (present, hadiah)’
Jangan sampai kegagalan di masa lalu membuat kita takut menghadapi masa depan. Berbuat baiklah hari ini sebagai wujud rasa syukur atas anugerah yg diberikan Allah kepada kita.
Wallahu a’lam bish shawab
>>KH:doing the right thing by doing the thing right. God never sleeps<<


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: