jump to navigation

Menjadi Pribadi Berdisiplin Jumat, Agustus 1, 2008

Posted by customs6th in Artikel.
Tags: , ,
trackback

Sebuah tulisan dari saudara kita AGUS KUNCORO yang begitu indah pabila kita bisa melaksanakannya. Yang Admin copy paste juga… yang menjadi harapan adalah bisa memberi manfaat bagi banyak orang….. (mungkin yang sudah gabung di millist “customs6th google group” udah dapet emailnya dan udah baca – tak ada nilai kurangnya bila dibaca kembali)

…………….

Dalam tulisan utama 5-habits Menuju Sukses, telah saya uraikan salah satu hikmah dari shalat khusyu’ adalah menumbuhkan kedisiplinan dan konsentrasi. Tulisan sebelumnya telah menguraikan bagaimana cara mencapai shalat khusyu’ dan dalam tulisan ini kita akan mengkaji bagaimana ibadah shalat dapat menjadi pendorong kita untuk berdisiplin. Setidaknya, tulisan ini diharapkan mampu menyadarkan kita bahwa shalat yang kita lakukan bisa memacu diri kita untuk menjadi pribadi yang disiplin.

Sebelum saya mempunyai ide menulis 5-Habits Menuju Sukses, sudah banyak tulisan dan kajian lain yang membahas kaitan antara shalat dan disiplin. Beberapa tulisan akan menjadi rujukan saya tanpa niat untuk plagiat atas tulisan tersebut. Semoga tulisan ini bisa memperkaya khazanah kajian keislaman di Indomesia.

Shalat adalah ibadah ritual, sebagaimana ibadah ritual yang lain, kita diwajibkan untuk melaksanakannya tanpa banyak pertanyaan tentang apa, bagaimana dan maksud ibadah itu. Suka atau tidak suka, sesibuk apapun, sesulit apapun, kewajiban tetap harus kita jalankan. Bahkan, ketika kita tidak paham makna kewajiban itu pun, kewajiban ibadah tetap bersifat wajib. Ketika kita memasuka akil bagligh dan belum paham dengan tata cara shalat, kewajiban shalat harus tetap kita laksanakan dengan menumbuhkan motivasi mempelajari tata cara shalat.

Kedisiplinan adalah sikap mental untuk melakukan hal-hal yang seharusnya pada saat yang tepat dan benar-benar menghargai waktu. Sebagaimana saya uraian dalam tulisan sebelumnya, shalat bukan semata-mata ibadah fisik, namun juga melibatkan pikiran, dengan demikian pelaksanaan shalat dapat mempengaruhi sikap mental kita. Orang yang mentalnya sedang tidak sehat, (maaf) mabuk atau gila, tidak dikenakan kewajiban shalat sehingga shalat adalah ibadah yang bisa dilakukan hanya dalam keadaan mental yang sehat. Shalat adalah ibadah yang diatur dengan syarat dan rukun, sehingga ketika shalat, orang hanya melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan, dan menghindari hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan. Shalat adalah ibadah yang telah ditentukan waktunya, sehingga orang yang menjalankan shalat adalah orang yang menghargai waktu, karena apabila terlambat menjalankan shalat berarti orang tersebut tidak menjalankan shalat. Tiga unsur kedisiplinan sebagaimana definisi yang diambil dari Andrew Ho, sudah tercakup dalam ajaran ibadah shalat. Sehingga sangat merugilah umat Islam yang tidak bisa menumbuhkan disiplin dalam ibadah shalatnya.

Dalam kajian psikologi dan manajemen kontemporer, disiplin diyakinan sebagai salah satu faktor yang menentukan keberhasilan seseorang. Orang yang memiliki disiplin dalam hidupnya akan memperoleh hasil yang jauh lebih banyak daripada orang yang tidak disiplin. Contoh sederhana dalam menabung, orang yang disiplin menabung tentu akan memiliki saldo tabungan lebih banyak daripada orang yang tidak disiplin dalam menabung. Kalau dalam hal yang sederhana saja disiplin bisa memberikan banyak nilai lebih, apalagi apabila disiplin ini diterapkan dalam kehidupan yang lebih luas.

Zainun Mu’tadin dalam sebuah tulisan tentang disiplin menyatakan bahwa pembentukan disiplin merupakan suatu proses yang harus dimulai sejak dini. Sebagai suatu proses, pembentukan disiplin harus dilaksanakan melalui pendidikan disiplin yang sistematis. Metode yang umum dipakai guna menegakkan disiplin biasanya adalah memberikan hukuman. Kalau hal ini kita kaitkan dengan cara bagaimana orangtua mengajarkan shalat kepada anaknya, kita semua tahu bahwa anak-anak harus diajarkan shalat sejak dini, diberikan hukuman dan diwajibkan ketika baligh. Anak dalam usia tertentu dapat diberikan hukuman apabila tidak mau menjalankan ibadah shalat. Islam telah mengajarkan metode bagaimana tahapan-tahapan mendidik anak melaksanakan ibadah shalat. Lebih lanjut, Mu’tadin memberikan ciri-ciri metode pendidikan disiplin diantaranya sebagai berikut:

Ada batas-batas yang jelas

Pendidikan disiplin harus dilaksanakan dengan batasan-batasan yang jelas, karena tanpa batasan yang jelas, maka akan membuat tujuan pendidikan disiplin menjadi tidak tercapai. Ibadah shalat memiliki batasan-batasan yang jelas yang diatur dalam syarat an rukun shalat. Siapapun yang akan melaksanakan ibadah shalat harus memenuhi syarat dan rukun tersebut tanpa toleransi, sehingga pelanggaran atas syarat dan rukun dapat berarti tidak melaksanakan ibadah shalat. Kebiasaan menepati syarat dan rukun shalat seharusnya berkembang menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari untuk menepati segala aturan dan kaidah dalam lingkungan rumah tangga, pekerjaan dan masyarakat. Sehingga menumbuhkan keteraturan dalam kehidupan rumah tangga, pekerjaan dan masyarakat. Keteraturan dalam kehidupan merupakan pangkal mencapai kesuksesan.

Berkelanjutan

Pendidikan disiplin harus dilaksanakans secara berkelanjutan artinya harus dilaksanakan secara terus menerus dan tidak hanya dilaksanakan pada saat terjadi kesalahan saja. Shalat, sebagai salah satu rukun Islam, adalah satu-satunya ibadah yang diwajibkan secara terus menerus sepanjang hayat manusia serta tidak terikat tempat dan waktu. Shahadat hanya diwajibkan satu kali sebagai syarat seseorang mengikrarkan diri sebagai muslim. Ibadah puasa hanya diwajibkan satu bulan dalam satu tahun. Ibadah zakat juga diwajibkan setelah memenuhi nisab yang dihitung dalam periode tahunan. Ibadah haji terikat dengan tempat dan waktu tertentu. Ibadah shalat wajib saja tidak terikat tempat dan waktu, apalagi kalau kita menambahkan dengan shalat sunnah yang jumlahnya cukup banyak. Maka ibadah shalat adalah sebuah metode pendidikan disiplin berkelanjutan yang luar biasa manfaatnya. Dikaitkan dengan upaya meraih kesuksesan, ibadah shalat bisa menghidarkan diri dari sifat bosan dalam melakukan suatu aktifitas. Ibadah shalat menghindarkan diri dari sifat bosan karena harus dilakukan terus menerus.

Autoritatif

Autoritatif artinya pendidikan disiplin sebaiknya tidak dilakukan dengan cara yang terlalu otoriter, tetapi juga tidak terlalu memperbolehkan semuanya (permisif). Sikap otoriter tanpa permisif akan menumbuhkan pembangkangan diam-diam, sementara sikap permisif yang berlebihan bisa menjadikan pendidikan disiplin dianggap sebagai sesuatu yang tidak serius. Dalam bahasa sederhana, pendidikan disiplin harus fleksibel menyesuaikan dengan situasi dan kondisi. Ibadah shalat pada dasarnya harus diterapkan dengan, sepertinya, otortiter, karena syarat dan rukun yang sudah ditentukan. Namun bukan berarti ibadah shalat tidak punya permisif atau tidak punya fleksibilitas. Fleksibilitas ibadah shalat adalah ketika ada halangan karena sakit atau bepergian, terdapat tata cara melakukan shalat dalam keadaan halangan tersebut. Dengan adanya pintu permisif dan fleksibilitas tersebut, tidak ada alasan bagi siapapun untuk membangkang dari perintah shalat dengan alasan ada halangan. Pemenuhan syarat dan rukun shalat yang bisa dilaksanakan dalam berbagai keadaan, membuat shalat sebagai sarana efektif melaksanakan pendidikan disiplin. Ibadah shalat dengan demikian juga mengajarkan agar kita tidak putus asa apabila terdapat halangan, karena kita yakin selalu ada kemudahan dan fleksibilitas apabila situasi dalam keadaan tidak normal. Sifat putus asa akan menjadi penghalang besar dalam mencapai kesuksesan seseorang

Demikainlah uraian bagaimana shalat bisa menjadi sarana menumbuhkan disiplin yang akan menjadi gerbang kesuksesan seseorang. Bersyukurlah bagi mereka yang sudah bisa melaksanakan shalat dengan disiplin, semoga kedisiplinan itu bisa diterapkan dalam berbagai sisi kehidupan yang lainnya. Namun harus diingat bahwa arti ibadah shalat bukan semata-mata untuk mengatur waktu kehidupan seorang muslim. Ibadah shalat adalah ibadah yang harus tetap dilakukan sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW. Oleh karena itu, apabila ada yang merasa belum bisa menumbukan disiplin melalui shalat, jangan putus asa, tetapkan menjalankan shalat sebagai ibadah wajib sebagaimana firman Alah QS Annisa : 103 yang artinya “Sesungguhnya shalat bagi orang-orang Mukmin adalah kewajiban yang waktunya ditentukan (terjadwal)”. Belum mampunya meraih hikmah shalat harus menjadi motivasi dalam meningkatkan kualitas ibadah shalat sebagai manifestasi habits pertama meraih kesuksesan.

Referensi :

http://www.eramuslim.com/ustadz/shl/6828162509-ritual-shalat-apa-arti-dan-maknanya.htm?rel

http://www.pasarmuslim.com/e/news.php?bid=94

http://www.e-psikologi.com/remaja/290702.htm

http://www.pembelajar.com/wmview.php?ArtID=454

http://www.gayahidupdigital.com/2004/11/12/disiplin/#comment-11371

Ditulis Jakarta, 13 Juli 2008 sebagai rangkaian tulisan tentang Agama di http://www.guskun.com

Komentar»

1. Agus Kuncoro - Jumat, Agustus 1, 2008

terima kasih kang Admin .. eh Kang Hasan … sampai dengan detik ini tulisan itu sudah dibaca 332 kali lewat guskun.com dan 151 kali lewat infogue.com …

2. customs6th - Jumat, Agustus 1, 2008

: Agus Kuncoro
sama-sama….
hebat !!!!!
mudah2an orang yang sudah membacanya…..>>>> kemudian mengamalkannya

3. mbakpipit - Rabu, Agustus 6, 2008

waduh, berarti aku belum disiplin dong… masih suka nunda2 shalat, kadang rasanya males mau shalat…. matur nuwun sudah diingatkan


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: